Grey

November 4th, 2007 by britgalhere

The color is grey…
Was it always grey… and cold?
It was amber… amber and warm…
As the sunlight playing hide and seek…
Among the leaves, the trees, and dancing upon the water…

The color is grey…
Beautiful as the winter…
Icing lake and snow flakes…
In small crystall ball when it gets shake…
Untouchable…

The color is grey…
Fading away…
Like a fairy tale that gots forgotten…
Like smoke lingering for second and gone…

Was it always grey?

S P A S I

September 16th, 2007 by britgalhere

Dee, di bukunya Filosofi Kopi, menulis:

SPASI (1998):
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankan kita bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

………

Dee menulis prosa di atas dalam konteks kekasih. Hari ini, terpikir, bukan hanya dengan kekasih, tapi dalam segala hal dalam hidup kita, kita membutuhkan spasi. Ruang kosong untuk sejenak mengambil nafas, melihat dari prespektif yang berbeda. Tanpa spasi, segalanya hanya akan mejadi serentetan kata tanpa makna. Masihbisadibacatentusaja. Tapidalamjangkawaktutertentumatajadilelahkalimatkehilanganarti.

S p a s i… J e d a…

Biarkan diri mengamati, mengevaluasi tanpa harus sinis dan sarkastik.
Untuk mengerti tanpa menuntut.

S p a s i… J e d a…

Aku ingin membaca dan mengerti sebelum hancur lagi.

Do You Have Any Idea…

August 22nd, 2007 by britgalhere

Zipping hot chocolate in Coffee Bean today… smelling the sweet chocolaty… chatting with a good friend after a louzy day… then suddenly realize…

How much people have the idea about how other’s should do or should lead their live. Collecting memories of my own comments… he should go to Denmark; I think it is better for her to take the job in that MNC, she is strong and verywell capable and the money is good; naaaahh… she shoudn’t contact him anymore; uumm, why the hell he is marrying her while he still has "load" in his back… etc, etc…

… funny thing is I have no idea about my own life. It is like a giant mozaik with tiny winny pieces and scattered in the ground. Just thinking, one way to get idea about our life is to see our life from third-people-angle. And stop wallowing in our own pond for a moment. Yeah… then I realize, mostly after knowing what to do, I just be too reluctant to do it because… hmm… I can find and MAKE UP so many reasons.. but one factor is fear and solicitude.

Taking risk and be responsible for the decision…. hmm… mature and strong enough to do so? Or still being weak childish, not taking any actions and majorly cribbing about life day in day out… or taking rush decision and then blame others if something goes wrong?

Reflection of the day… hehehe…

Movie Marathon

August 20th, 2007 by britgalhere

Last week, without realizing it, I had had a movie marathon in theatre!!

Start from Thrusday nite, 16th Aug ‘07:
Bourne Ultimatum; Havent seen the rest of Bourne’s movie. Had the synopsis about the previous movies from my friends. A very stylish movie, fast pace, very dynamic camera movement. In term of storyline it is pretty simple, Bourne finally regain his memory back and run away… again… Kinda view it as US Version of James Bond, without the ladies or unnecessary sensual scenes… Never really like Matt Damon, but he is well playing in CIA roles… :D

Friday nite, 17th Aug ‘07
Chak De India… Had a quick review on it on the other article "Catatan Tanggal 17 Agustus 2007"

Saturday evening, 18th Aug ‘07
Ghandi My Father. Never really know about Ghandi, except he is one of freedom movement leader who against violence and separation between Hindus and Moslems in India. This movie was describing about his relationship between Gandhi and his first son, Harilal. I might not been able to appreciate the movie as much as if I were an Indian, but I was touched by the movie. Not sure how much authentic is the story, the movie tried to convey how difficult it is to be a son of such an idealistic man, which maybe combine with such unfortunate situation, has lead Harilal to a rough path. Gandhi is showed as a very idealistic man even as a father. He loves his country so much and he holds his principles high. Always thinking about other people and serving the community. The movie also showed a bit of Gandhi journey. Mostly it described how Harilal was struggling in his life, to recover but then fell again into his past. Harilal died 5 months after Gandhi was shot in Mumbai Hospital, in poor and ill condition.

Sunday evening, 19th Aug ‘07…
Knocked Up… supposed to be a funny movie… well, it is funny, but for me quite a nightmare also :D. The story is about this young woman who just started her career as VJ in E! Entertainment. After her promotion, she went to this club, got drunk and slept with this jobles-no future-who lived with 5 other "useless" housemates" guy. Well, the movie has a happy ending… quite cliche actually… the guy started to learn to live with the girl and got to know her family, they had up and down relationship, and finally they had a cute baby girl and by then the guy had become a responsible guy. Important message: Don’t get drunk with a stranger and get sleep together without protection… :D :D :D

Next movie I have been waiting for since last May: Ratatouille (Rat-a-too-ee)! Oh yeah.. I think I’ll banned Quentin Tarantino from my list… hehehe… he is just too unique man! I am just an ordinary movie freak…

Catatan 17 Agustus 2007

August 17th, 2007 by britgalhere

“Do you want to see this Shah Rukh Khan movie?” saya sempat kaget membaca sepenggal kalimat tersebut di jendela GTalk. Jarang sekali Priya mau nonton film Hindi, apalagi film-film yang dibintangi Shah Rukh Khan yang notabene dengan romantisme, dialog yang mendayu-dayu dan air mata. Sedangkan saya sendiri masih setengah hati untuk nonton film Hindi. Maklum, sudah tertanam rasa gengsi untuk nonton film India, biarpun sempat pacaran dengan orang India. Hehehe… Tapi sore ini begitu membosankan di kantor dan menurut Priya film yang ini jauh berbeda dengan film-film Shah Rukh Khan yang biasa. Gak ada acara nari-nari atau nyanyi-nyanyi dan gak ada adegan percintaan. So, ok, why not, sekali-kali boleh juga…

Chak De India. Film ini bertutur tentang seorang pemain hoki nasional yang kalah di final melawan Pakistan pada babak penalti. (Cat: India dan Pakistan selalu bersaing sengit di setiap kompetisi, kekalahan akan membawa efek yang sangat besar bagi masyarakat mereka). Somehow, jabat tangan di akhir pertandingan antara si kapten dengan pemain Pakistan disalahartikan oleh media dan masyarakat. Si kapten dituduh telah menjual India pada Paskistan. Dampaknya sangat drastis, masyarakat membenci, mengucilkan si kapten dan dia menghilang selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, si kapten kembali ke dunia hoki untuk mejadi pelatih tim nasional putri yang selalu dicap tidak mampu membawa nama India. Berangkat dari keraguan orang-orang dan masalah-masalah internal, si kapten berjuang untuk membentuk tim hoki dan membawa tim India ke Piala Dunia Hoki. Walaupun sudah bisa ditebak pada akhirnya mereka akan memenangkan Piala Dunia dengan penuh perjuangan, tapi kemenangan mereka digambarkan dengan cukup realistis. Secara keseluruhan, meskipun tidak ada yang istimewa, film ini cukup menarik, tidak membosankan dan pesannya tersampaikan dengan baik.

Tapi saya bukan ingin membicarakan tentang film ini. Yang menarik adalah semangat nasionalisme dari orang-orang India. Sepanjang film, saya bertanya-tanya apakah kita sebagai orang Indonesia punya semangat seperti itu. Yupe, memang benar Chak De India memang sekedar film, tapi setidaknya film mereka menunjukkan kalau mereka bangga menjadi orang India dan mereka ingin berjuang untuk mengharumkan nama India. Semangat yang sama saya temukan di kartun-kartun dan komik-komik Jepang semacam Kapten Tsubasa, Shoot!, dan lain-lain. Mungkin bagi sebagian orang, kartun, komik, dan film tidak berarti atau sepele, tapi yang saya lihat adalah mereka berusaha menterjemahkan semangat kebangsaan mereka melalui media-media tersebut.

Saya tidak tahu berapa persen orang Indonesia yang masih merasa bangga sebagai orang Indonesia. Saya mendengar beberapa teman-teman Indonesia di sini sudah tidak peduli lagi terhadap kondisi atau berita apa-pun dari Indonesia. Sempat dengar komentar juga, kalau saya tidak perlu pulang ke Indonesialagi karena kondisi di sana semakin memburuk dan membuat frustasi tiap harinya. Harga-harga melonjak naik, korupsi-jangan ditanya-semakin merajalela walaupun pemerintah terlihat cukup aktif memberantas korupsi, untuk masuk sekolah negeri tak ada cara lain selain ikutan sogok-menyogok, jalanan semakin padat, polusi, sampah di mana-mana, pengangguran meningkat, bencana alam, bencana pesawat jatuh-ferri, penerbangan Indonesia diblokir, dan sebagainya,… dan sebagainya…

Tapi… kalau bukan kita yang peduli dengan negara kita… lalu siapa lagi? Apakah kita dengan sukarela akan menyewakan negara kita untuk dikelola oleh negara lain dan kita hanya akan numpang tinggal di Indonesia? Kalau bukan kita yang muda-muda ini masih sok beridealisme, lalu siapa lagi yang mau meneruskan membangun negara kita? Atau kita hanya duduk diam, tidak peduli, biar hancur sekalian hancur?
Ketika saya pulang bulan Mei yang lalu, beberapa kali saya mendengar, “Ya gitu deh mentalnya orang Indonesia. Ya… gitu deh pemerintah kita.” SO WHAT?!!! Apa kita juga sudah berbuat sesuatu yang membuat kita bebas dari “mental Indonesia” kita? Kalau setiap orang bisa berkata hal yang sama, tapi gak mau berubah, ya… memang gak akan bisa berubah.

Saya tidak pernah turun ke jalan waktu saya masih mahasiswa. Jarang sekali ikut menganalisis mengapa pemerintah atau politik kita begitu bobrok dan bagaimana kita harus mencoba membenahinya. Saya juga tidak terjun membina LSM-LSM. Tapi saya pikir, semua orang bisa berkontribusi untuk berbuat sesuatu. Biarpun kecil dan mungkin seperti tidak berarti, tapi saya yakin akan ada hikmahnya dari itikad baik dan usaha yang nyata. Contoh? Tidak membuang sampah sembarangan. Mungkin kita bisa tertawa. Apa hubungannya? Saya akan memberikan jawaban guru SD saya, kalau satu orang membuang sampah ke jalan dan berpikir,”Ah gak apa-apa kan cuman seorang ini”, kalau ada semilyar orang berpikiran sama, bakalan ada semilyar sampah lebih setiap kalinya. Lalu siapa yang bertanggung jawab akan kualitas lingkungan hidup kita? Kalau kita terbiasa dengan membuang sampah seenaknya, jangan heran kalau ada pihak-pihak yang tidak peduli membuang sampah industri yang beracun begitu saja. Kalau kamu seorang mahasiswa, tapi gak pernah kuliah, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun buat lulus, apa itu sebuah bentuk kontribusi? Jatah kamu bisa dipakai oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang bertekad untuk lulus, cari kerja, dan membantu orang-tuanya mungkin. Ok… mungkin bagi beberapa orang, hal-hal tersebut gak ada artinya untuk membuat negara menjadi lebih baik. So if you think you can do more, then do it. Else, I don’t see anything wrong to keep implementing these small things and still trying to move forward.

Saya juga berharap kalau Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya sekedar semboyan bangsa yang diulang-ulang di setiap buku PMP, PPKN, atau apa pun namanya sekarang. Bangsa Indonesia rapuh sekali dengan perpecahan. Etnis, ras, agama, kedaerahan. Malaysia malah dengan bangganya mempromosikan “Malaysia Trully Asia” karena keanekaragaman mereka. Dan harus diakui Malaysia bergegas maju dan meninggalkan Indonesia di garis belakang. Bangsa kita malah mudah terkoyak jika titik-titik sensitif ini disentuh. Kita harusnya bisa melihat melebihi batas-batas kotak-kotak ini, keluar dari keterkotakan. Bukannya saling curiga dan menjatuhkan. Kalau dari dalam saja begitu, bagaimana kita mau menghadapi dunia luar?

Ini adalah catatan pada tanggal 17 Agustus 2007. Call me a dreamer or a stupid idealist or No-Action-Talk-Only person or a major hypocrite who only talk and keep living in foreign country and even using English to write this sentence. But I do still care about Indonesia and at least I don’t want to lose this passion. I really hope that Indonesian will not lose their hope and give up, well… at least not the youngsters. Sekali lagi, kalau bukan kita, siapa lagi? Semoga Tuhan memberkati negara kita. Merdeka!

Bahwasanya…

July 16th, 2007 by britgalhere

Bahwasanya pada tanggal 16 Agustus 2001….

Daku dengan sukses membanting EP dan Wiwied di depan Sunken. Hohohoho…. (hasil tempaan BondX).
Hari itu juga pengumuman nilai ELKA dan gue dapet A…

Such a fine day…

Harry Potter & The Order of The Phoenix

July 15th, 2007 by britgalhere

The worst book, the best movie…

Yupe! That it my comment. Among the 6th relased books, for me the 5th book was dull, boring, not up to my expectation. However, I like this 5th movie the best compared to the other movies.

I just read view reviews in www.movie.yahoo.sg, most of the users give bad review, well mostly they give 50% ok and 50% bad. I will not say this is the best movie ever, because it is not (Pirates of Carribean 3 is better than this, I daresay) but this one is more appealing compared to its successors.

I do not like Goblet of Fire movie. They were trying to hard to combine all the pieces; details, plot, characterization, effect, but these spices did not create a delicious dish. 4th movie is scattered and awkward. I read the book and I was greatly dissapointed with the movie. Not sure about people who hadn’t read the book.

I feel, the team has learned from their previous mistake. Rather than trying too hard in giving details, they have successed to maintain the plots and characters. I can see the continuity from one scene to the others. Though have to admit that it lacks of funny scenes, but the suspense is built nicely. I really like its dark atmosphere - as Harry Potter is not a flowery cheerful story, I think starts from the 3rd movie, Prizoner of Azkaban, they are consistently maintain this dark and gloomy ambience.

I admit, a lot of details are missing, such as love story between Harry and Cho Chang, history of Longbottoms family, Harry’s frustration and what is really happen to him so Dumbledore is avoiding him, Hagrid and Olympia’s attempt to persuade giant community not to join Voldemort, OWLs exam, etc, etc… They even change the story. Cho Chang is not supposed to be the one who tell the secret of Dumbledore Army, it is her friend. But I guess this change is necessary in order not to drag the movie with too much explanations and details.

Umbridge character is really well played by Imelda Staunton. It is just perfect. This little woman who fancy and fake-sweet polite from outside has a vicious character inside, is trying to "discipline" Hogwarts and streamline it with ministry will. I believe those who read book will give two thumbs for her acting.

I would compliment the fighting scenes as well. The magical battle in Ministry of Mistery is pictured really cool!!! With the blured images and light crossing here and there. Voldermort battle against Dumbledore and Harry is also impressive. There is a scene where Voldemort dissolves into sand and enters Harry, tries to take control of his mind. I do not remember the book describes this, but anyway… it is a good scene…

Last one, as an ex-teenager… I would like to say… The Twin are really cute!!! I do not like Harry’s new hairdo.. but it quite supports his frustrating and rebel character in this story.

Well, all above comments are written by me who has read the book. Again, not really sure the opinion from them who do not read it. Overall, it is a good enjoyable passing time movie, so why not? ;p

Lonely… I Am So Lonely… I Have Nobody to Call My Own…

July 15th, 2007 by britgalhere

Lonely… I am so lonely, I have nobody to call my own…

Yeah baby… that is one of Akon’s song… really like the song. But I don’t like the feeling. Especially in Sunday night when you have this pop-up annoying reminder in your head that you have to go work tomorrow! Waaaaa!!!!

Somehow I feel pathetic and weak when I realize that I feel lonely. But what the heck, everyone must have this feeling, even if you are the most independent and self-assured person in this world.

So… I was trying to write something and thinking to write about feeling lonely. When I was browsing to find some materials, I find a good write up in this link:

http://www.personal-development.com/chuck/loneliness2.htm

Just want to summarize and share what I have read. Hope it can be useful for anyone who care to read this blog… hehehe….

Loneliness is (obviously) feeling lonely. It is just another feelings that human feels. However, loneliness is not that “innocent as it looks”, it can lead into anxiety or depression. One can be crippled by self-pity and helplessness. As soon as the stress that caused by loneliness take over yourself, it can weak immune system and trigger so many illness.

The good news is we can do something about it. As life is always about taking options, we can choose whether to drawn into the feeling or really do something about it. We need to remember that we are not our feelings, feelings is just a part of us.

The author, Gallozzi, gives some suggestions how to deal with loneliness. First is to give away what you wish to receive. If you need a friend, then be a friend. If you need support then give support. By healing other’s loneliness, we might cure our own. By giving support to others, we might get the supports in return. However, it is important to be sincere, upright, with whole-hearted. If we do something just to expect we receive something else in return, then the result will only backfire. People receive the most when they give the most. It is better to give of yourself, but keep the expectation lower (I want to write, “do not expect anything” but I guess most of the time we can not be “expectation-free” ;p).

Think of others rather than be full of yourself. Being needy will not help as it will just drain your friends’ energy and drive them away. It is wise not to dump your problems and overwhelm others. Learn to listen and comfort other, then you will not just swimming in your ocean of loneliness (I am trying hard to carve those sentences inside my head… and my heart — sometimes your head does understand, but your heart just roaring like untamed lion, eating your head alive… hehehe..). 

In this website, it is also mentioned that it is good to be alone. You need to spend sometimes with yourself, to know yourself better. It is an opportunity for reflection, self-discovery, and growth. Yet, do not deprive others because of this.

Besides that website, I also find that it is important to have a hobby. Not all the times we can spend with our family and friends. They have their own life too. And to have a hobby will be very helpful and useful.

Well, nothing is really going to change in one night. After reading the article, I really hope I could make use of it. I believe so many people are feeling lonely by now. I hope we can find our own way and overcome that.

God bless you all J 

Betapa Bahagianya…

July 7th, 2007 by britgalhere

Ketika sedang jalan-jalan di Orchard minggu kemarin, dengan rencana-rencana di kepala mengenai liburan ke sebuah pulau di Malaysia, dan tinggal di hotel bintang lima, tiba-tiba terasa betapa materialistisnya orang-orang jaman sekarang, well termasuk gue sendiri.

Terbersit gambaran-gambaran masa lalu serupa gambar di film-film tahun 80-an. Ketika tinggi gue tak lebih dari 120 cm, saat adik gue masih putih kecil chubby and sangat lucu :D. Keluarga kami belum semapan saat ini. Namun setiap hari minggu, mama akan selalu mencoba untuk menghabiskan waktu bersama kami. Setiap bulan mama sudah punya rencana. Masih teringat ketika mama menghitung dan menyisihkan sejumlah uang dari dompet cokelatnya. Dan gue duduk di kasurnya yang besar mendengarkan rencana mama dengan gembira.

Naik sepeda di Gasibu, gratis dan menyenangkan. Gue dan adik gue bereksplorasi menjelajah Gasibu dengan sepeda roda tiga kami. Kalau papa ikut, papa mengajari kami bermain bulutangkis. Kami punya dua buat "mini" raket, punya gue berwarna kuning dan adek hijau.

Kebun binatang adalah tempat yang kami singgahi lebih dari 100 kali. Sampai hari ini, kalau gak ada perubahan yang radikal (dan gue pikir gak ada..) gue masih ingat semua rute, binatang mana di kandang sebelah mana. Ada sebuah kolam di dekat kandang buaya, dan kita bisa menyewa perahu dan keliling kolam sekitar 10 menit. Mungkin kedengarannya sederhana sekali, tapi saat itu kita merasa senang  bisa keliling-keliling kolam dengan "pulau" (yang sangat kecil sekali di tengah-tengah) dengan kandang monyetnya. Gue selalu terpukau melihat harimau dan singa. (Sampai hari ini gue punya obsesi untuk memelihara anak harimau atau singa yang bakal gue kasih nama "Google" sesuai dengan permintaan salah satu temen gue di sini…hehehe…). Masih ingat, mama dan adek sempat melihat adegan ular yang kejar-kejaran dengan angsa, berakhir dengan angsa yang malang jadi santapan makan siang. Di bagian akuarium, ada ular laut yang dinamai ular laut pelangi, dan mereka punya semacam presentasi tentang kehidupan laut selama 15 menit. Dan gue akan duduk tenang menikmati keindahan karang (saat itu gue berangan-angan kapan gue bisa liat yang aslinya…). Setiap kali kita akan pergi kebun binatang, mama selalu membangunkan kita pagi-pagi, soalnya kalau kita sampai siang hari, kita akan dihadiahi bau spesial karena binatang-binatangnya dengan nyaman mengeluarkan sarapan mereka :D

Taman Lalu Lintas adalah salah satu tempat yang mahal, "fancy place". Permainan yang paling gue senangi ialah memancing ikan-ikan kayu. Jika berhasil memancing sejumlah ikan, maka gue bisa menukarkan ikan-ikan itu dengan buku tulis, penghapus warna-warni yang wangi, dan pensil. "Wahana" yang paling mahal ialah kereta api mini yang mengelilingi seluruh taman. Tidak setiap saat kita berkesempatan untuk naik kereta api tersebut, tergantung pengaturan budget minggu itu. Komedi putar adalah wahana wajib yang selalu kita naiki, dan oh… gue ingat ada semacam mobil-mobilan (kayak bom-bom car) yang bisa kita naiki atau bisa menyewa sepeda juga (kita gak boleh bawa sepeda sendiri :( ).

Yang paling mewah adalah KINGS Mall. Mereka punya semacam "super mini Dufan" dengan kora-kora mininya. Biasanya kita akan mengajak Mas Vani, my dearest cousin, untuk ikutan bermain di sana. Wahana favorit gue adalah kolam bola. Bola-bola warna-warni bertumpah ruah di sebuah ruangan kecil dan gue dengan super gembira "berenang" di dalamnya. Gue selalu terpukau dengan warna, dan gak ada yang lebih menyenangkan daripada "tenggalam" di dalamnya. Bom-bom car selalu jadi pilihan semua orang. Senang sekali menabrak-nabrak semua orang tanpa harus ada yang terluka. Hehehe…

Terlepas dari semua itu, yang paling membahagiakan adalah punya seorang mama yang sangat menyayangi kami semua. Mama selalu memikirkan kebahagiaan kami. Walaupun kami gak punya uang, tapi mama bisa dengan cerdasnya mengatur semua sehingga kami selalu merasa cukup dan tidak kekurangan apapun. Di saat tidak ada uang di tangan, selain Gasibu, mama akan mengajak kami untuk melukis, menggambar, atau membaca buku dan menulis cerita. Sekolah di Santa Angela yang notabene dengan orang-orang kaya tidak pernah membuat kami iri dengan anak-anak lain. Sekarang, ketika gue merasakan gimana capeknya bekerja, gue pikir walaupun secapek apa pun mama, dia selalu berusaha untuk melakukan aktifitas bersama.

Hal-hal sederhana bisa begitu berarti. Sementara di sini, ketika gue bisa makan enak, kalau mau setiap hari, di restoran dan gue punya cukup uang untuk membeli barang-barang yang gue inginkan, gue justru mudah lupa dengan hal-hal sederhana. Dan bukannya bersyukur dengan apa yang gue punya, gue malah lebih berfokus dengan "yang gak ada" di sini.

I wish I could go back to those times, strolling along in Gasibu with my bike with my dear brother, share the launghter and all the joy…

Bala-Bala!!!

July 1st, 2007 by britgalhere

Sabtu malam (30/Jun) yang menyenangkan dan mengenyangkan! Abis nonton Transformer bareng Iped dan Abduh, kita makan malam di Surabaya Restoran, Lucky Plaza, lt 2. Ayam Penyetnya yummie dan gue dengan sukses menghabiskan 2 botol teh botol (ooh, teh botol!!!). Pas kita ngobrol seputar Bandung, tiba-tiba salah satu dari kita keceplos, "Bala-bala!!!".

FYI, di Singapur hampir gak ada tukang dagang pinggir jalan. Kalau misalnya ngeliat dagang gorengan di sini (yang paling terkenal Old Chang Kee, yummie juga tuh, ada nugget, chicken in wrap, crab, prawn, sluruupppsss) penampakannya fancy dan bersih!!! Gak ada acara ngegoreng pake minyak yang warnanya cokelat kehitam-hitaman disertai bumbu sedap debu jalanan dan asap knalpot… hehehe… Tapi menurut gue justru itu yang bikin bala-bala dan sejenisnya punya cita rasa tersendiri… (kalau bikin di rumah, gak tau kenapa rasanya kok beda… :D)

Bala-bala itu hanya campuran tepung dan sayuran… Bala-bala gank termasuk pisang goreng, cireng (aci digoreng), dan gehu (tahu isi toge). Gehu menempati urutan kedua di daftar favorit gue!!!

Sehubungan dengan kangen dadakan untuk makan bala-bala, gue membajak resep dari http://www.keseharian.com/dapur/balabala.html. Silakan dicoba, kalo sempet kirim2 ke sini lebih bagus lagi!! Hehehe…

BALA-BALA

Bahan
250 gr tepung terigu, terigu kiloan lebih bagus
55 gr tepung kanji
3 lembar kol, iris halus, cuci, tiriskan
1 batang wortel, iris dadu kecil, cuci, tiriskan
50 gr tauge, siangi, cuci, tiriskan
2 batang daun bawang, iris
1 butir telur (opt)
250 ml air
minyak sayur untuk menggoreng

Bumbu halus
4 siung bawang putih
4 siung bawang merah
1 sdt garam
1 sdt merica

Cara membuat
1. Campur semua bahan dengan bumbu halus, aduk rata
2. Panaskan minyak, goreng adonan 1 sdm demi 1 sdm, bolak-balik sampai kekuningan
3. Angkat, tiriskan, sajikan hangat bersama cabe rawit hijau

Oooooohh, bala-bala, bala-bala, bala-bala…..