Archive for July, 2005

Jatuh

Sunday, July 31st, 2005

Terjatuhku tinggi mengangkasa

Terbenamku dalam telaga

Hingga…….

Melarut dalam setiap untaian sang kala

Dalam uraian nafas dan nada

Dari ada menjadi tiada

Dari tiada menjadi ada

Jika ini tak nyata biarlah kuterjaga

Jika ia terlahir jua

Ingin kugenggam selamanya…

(Di sore hari yang suntuk, to wish an impossible wish… or is it possible?)

Wanna be… Wanna be Happy…

Saturday, July 30th, 2005

“Hidup itu udah susah, jangan dibuat lebih susah lagi”, seinget gue, gue baca tulisan ini di buku kenangan gue pas SMA. Entah berapa banyak orang yang menggunakan semboyan ini atau “Hidup itu cuman sekali buat apa dibikin susah”. Yang pasti, secara nggak sadar gue malah lebih sering menggunakan semboyan yang berlawanan,”Kalau bukan susah, itu namanya bukan hidup”.

Seseorang yang pernah jadi tumpuan gue, yang selalu tau apa yang terjadi dengan gue, malah sempat bilang, “Tjit, kok kayaknya elu tuh susah terus sih, jadi khawatir ama elu”. Pada saat itu, gue malah mengubah mode gue jadi mode bertahan dan menganggap kalo dia yang salah.

Setelah direnungkan, ternyata memang gue gak mudah menikmati hidup. Menurut buku Personality Plus, Laurence, gue termasuk tipe melankolis-koleris. Orang melankolis cenderung perfeksionis, punya standar yang tinggi, sensitif, tekun, talented, dan moody banget. Orang koleris cenderung nggak populer, bakat leadershipnya seringkali dibarengi dengan sifat agresif dan kompetitif, berorientasi target, dan sering merasa bersalah kalau meluangkan waktu untuk hal yang tidak produktif.

Gak jarang, ketika gue meraih sesuatu atau lagi ngerasa seneng, tiba-tiba ada satu suara yang bilang, “Eh, jangan terlalu seneng, ntar kalo kenyataannya ternyata gak gitu, lu bakal kecewa sendiri loh.” Misalnya aja, supervisor gue muji kerjaan gue. Sesaat gue ngerasa seneng, tapi beberapa saat kemudian ada suara yang bilang, “Kok segitu ‘aja udah seneng sih? Kayaknya elu bisa ngerjain hal yang lebih baik kok.” Atau misalnya, ketika hubungan gue dengan someone special lagi hangat-hangatnya, tiba-tiba ada suara yang bilang, “Iya sih sekarang seneng, tapi gimana ya ntarnya kita kan banyak banget perbedaan.”

Menurut abang Hendra, reality check itu perlu. Gue pikir juga, kalo kita terlalu kebawa perasaan atau terlalu memegang asumsi kita terhadap state kita sekarang ini, tanpa melakukan verifikasi terhadap kenyataan sebenernya, kita bakal tersesat dan bahkan mungkin stagnan. Stagnan karena kita udah merasa nyaman dan puas dengan hasil yang kita miliki, sehingga bakat kita gak berkembang secara optimum.

Hanya ‘aja, kalau misalnya dibawa ke titik ekstrim atau diaplikasikan secara gak seimbang, hasilnya… kita bakal susah menikmati hidup kita. Emang gak ada aturan pakem gimana supaya bisa mendapatkan keseimbangan yang pas. We have to learn by ourselves. Yang jelas, gue sekarang mencoba melonggarkan baju gue. Artinya kalau gue sedang merasa bahagia, gue akan menikmati momen itu. I wanna live and treasure each moment in my life. I wanna be thankful to Him for everything that He gives to me.

I promise myself I wanna make her happy. Gue mau share cerita gue selama di Singapura. Ini kali pertama gue keluar Bandung dan “hidup sendirian”. Buat gue bukan hal yang mudah, mungkin juga karena gue gak pedean dan seringkali manja. It took me nearly a year before I could adapt here. No family and close friends. Even sometimes wonder, what I can do here, how about my future, and so on. Jatuh bangun, akhirnya gue sadar. Kalau gue gak mengijinkan gue sendiri bahagia, dan terlalu takut akan segala sesuatunya, gue gak akan pernah “benar-benar hidup”.

Sekarang gue lagi magang di perusahaan. With my Engineering Physic and Rapid Product Development as my background which quite general, sometimes I feel I do not have much to offer. Akhirnya, gue memutuskan untuk berusaha sebaik mungkin yang gue bisa dan menikmati satu tahun masa magang gue. Karena mungkin aja tahun depan gue bakal susah nyari kerja. Anehnya, kita gue mencoba “let it flow”, hidup malah kerasa lebih ringan.

Gue adalah tipe orang yang harus tau mau jalan ke mana baru bisa melangkah dengan enak. Di Singapur, there are too much unknown variables. Kalo dipikirin satu-satu, I will be going nuts! Gue ngerasa, di sini gue harus belajar nge-flow and berserah. BERSERAH, mungkin jadi salah satu kuncinya. Gue baru sekarang ngerasain, begitu banyak ketidakpastian yang membuat gue kadang susah untuk membuat rencana atau bahkan gak punya rencana. It doesn’t mean I stop trying. It just… I have to take things slower and not to be too demanding. Do my best, GOD do the rest. I am learning how to have faith that HE already has a plan for me.

“Tapi apapun yang terjadi, akan kujalani, akan kuhadapi dengan segenap hati. Walau ku terluka, memang ku terluka, tak pernah kulari dari semua ini.” Kata Sheila on Seven di salah satu lagunya “Jalan Terus”. I wanna live my life everyday, touch other people life, always give my best, share His bless with others and… be happy.

The Charm of 24th July

Thursday, July 28th, 2005

ieHuhuy!! Dah lama neh gak ngeblog. Beberapa hari ini, gue sibuk menikmati hidup! Yupe!! My mum and my bro visited me couple days ago, special to celebrate my bday. Hari ini gue pengen mencoba melukiskan pengalaman beberapa hari ini yang sebenernya sulit dilukiskan dengan kata-kata…

Jumat, 22 Juli 2005 Setelah sempet tertahan di rapat rutin setiap Jumat pagi, akhirnya gue berhasil meluncur ke Changi dengan taksi. Berkat kecerdasan gue, setelah nyampe di Changi, gue bolak-balik terminal satu dan dua, kebingungan nyari di mana tempat kedatangannya. Akhirnya, setelah berpikir (hihihi.. kayaknya berpikir adalah suatu hal yang luar biasa buat gue), gue baru sadar kalo kedatangan itu di lantai satu dan bukannya lantai dua, mau dicari ampe terminal keseratus juga gak akan ketemu kalo nyarinya di lantai dua!!!

Masih inget, MZ900 di Belt 21. Deg-degan juga nungguin mama sama adek. Trus pas akhirnya mereka muncul (gak sadar gue dah nungguin di luar) mata gue jadi berkaca-kaca. Hiksss. Setelah mereka selesai ngambil barang-barang, akhirnya mereka ngeliat gue juga. Terharu deh rasanya ngeliat adek gue jadi ikut (pengumuman, sebelumnya adek gue hanya masuk waiting list jadi ada kemungkinan dia gak ikut). Langsung deh kita ke Gillman Heights.

Setelah memberikan sekian banyak hadiah, istirahat, belanja bentar, maen internet bentar (adek gue takjub dengan kecepatan internet di singapore), akhirnya kita berangkat juga ke Night Safari. Ada dua pilihan untuk menikmati Night Safari di Singapore Zoo. Pertama, naik trem, kedua, jalan kaki. Kita memilih untuk jalan kaki.

Agenda pertama adalah animal show. Di sini kita disuguhi atraksi dari binatang-binatang malam, mulai dari binturung yang jalan di tali yang tergantung di atas kursi penonton, berang-berang yang pinter memilih dan memasukkan barang-barang recycle dan sampah ke tempatnya, atraksi memegang ular sanca, kucing hutan yang bisa melompat tinggi, dsb.

Setelah nonton animal show, kita mulai jalan dari Fishing Cat track. Gak apal juga sih nama-nama tracknya. To be honest, the animals there aren’t exoctic as we have in Indonesia. Even the animals in Bandung’s Zoo are more attractive. However, Singapore Zoo really great at managing and maintaining the animals, cage, tracks, plants… everything!

Dari semua binatang, otter, hyena, indian wolf, lion, bear, girrafe, yang paling mengesankan adalah waktu ke kandang harimau. Waktu pertama kali ke Night Safari, si harimau ini sombong banget, ngasih punggung doang dari jarak jauh. Waktu kemaren, masih ngasih punggung sih, cuman kali ini, harimaunya nempelin punggungnya di kaca!!! Aduuuhh, senengnya, berasa bisa membelai-belai dari dekat. Jarak kita cuman setipis kaca!! Pengumuman lagi, gue penganggum kucing besar, dulu gue pengen punya bayi harimau sebagai peliharaan. Capek juga, tapi puaaaasss!!! Mudah-mudahan, mama sama adek gue juga menikmati Night Safarinya!

Sabtu, 23 Juli 2005 Hari Sabtu emang agak padat. Pagi-pagi kita pergi ke Jurong East, ke Singapore Science Center dan Omnitheatre. Gak nyangka, Singapore Science Center itu asyiiiikk banget. Alat2 peraga ilmu Fisika, Biologi, Kimia, Robotnik.. semuanya ada. Gue terkesan banget sama alat pembangkit listrik, dan "lab biologi"-nya. Kayak yang gue impiin waktu masih kecil. Ilmu pengetahuan alam bukan lagi jadi hal yang mengerikan, malah menyenangkan dan membangkitkan rasa ingin tau yang lebih dalam. 

Kita gak bisa lama-lama di sana, karena kita dah beli tiket untuk pertunjukkan "Mystery of the Nile" di omni-theater. Disebut omni karena layarnya memenuhi segala arah. Seperti ngeliat planetarium. Filmnya jadi punya aksen 3D yang kuat. Agak pusing juga sih, dan ceritanya juga gak terlalu rame. Filmnya ternyata tentang petualangan menaklukkan sungai Nil. Gue pikir tentang misteri sungai Nil di jaman Mesir Kuno gitu. Pasti seru kan tuh, buaya, mumi, kepercayaan kuno… sayangnya… Anyway, it was worthed, added one new experience!!

Pengennya sih ke Snowcity, tapi gak jadi karena waktu mepet dan jadwal padat. Kita bergegas ke Simlim Square, berhubung adek pengen beli headphone. Setelah dapet headphone Sonny, kita pulang ke Gillman Heights dulu berhubung masih ada acara malam harinya.

Ketiduran, bangun jam 7 malem dengan panik karena belum siap-siap. Mum, adek, dan Shanskie dah nyamper duluan. Akhirnya setelah terburu-buru dandan sekenanya, kita pergi ke Fullerton berlanjut ke Singapore River. Shanskie emang guide yang jempolan, bisa dengan lancar menerangkan segala sesuatunya. Naik perahu keliling Singapore River, ngeliat Riverwalk, Esplanade, Merlion, deretan gedung tinggi dengan cantiknya berpadu padan dengan cahaya kota, with my mum and brother, and a very good guide.. hehe.. gak terkatakan deh rasanya.. Kelaparan, akhirnya kita makan di Thai Express. Pesenan gue Seafood Grilled, enak banget!! After having a pleasant coversation, we walked home.

Minggu, 24 Juli 2005 Senangnya!! Tengah malem ada yang ngasih kado!! Jadi bisa tidur sambil senyum deh.. hihihi.. Sedihnya, hari ini adek harus pulang. Paginya sempet ke Mustafa dulu beli oleh-oleh. Trus adek ngebeliin boneka beruang es lucuuuu banget. Gue kasih nama Hans. Setelah sarapan di restoran Jepang di Changi, akhirnya adek pulang ke Bandung. Hiksssss. 

Sorenya sempet belanja ke Anchorpoint dan Ikea. Malemnya having PIZZAHUT time, bareng temen-temen, Ibeth, Hengky, Hai, Iped, Ryan, Hendra, Kiti, Li Yanhui, dan temennya. Kaget juga mereka beli kue ultah dan ngasih kado tas yang cantik banget. Tapi yang paling berkesan adalah waktu mereka ngasih komentar soal gue. Gue terharu banget. More over, gue bersyukur banget gue bisa ngelaluin masa-masa sulit gue bareng mereka. There are HIS gifts to me. Jadi kangen sobat-sobat di Indonesia juga… hikssss… MISS YA GUYS!!!

Begitulaaaah, untungnya mama masih stay walau hanya sampai hari Rabu. Seneng banget bisa ngelewatin ultah gue bareng mama, adek, dan temen-temen gue. Pengennya sih lebih banyak orang lain. Anyway, for you guys who were not being here with me… you all always live inside of me… thank you for all the love and precious moments that you have given for me… Until we meet again!!!

Oh iya, happy bday juga buat my big sista Mirtha, my cute big brother Beebin "The Polar Bear", and my juniour Muhaimin. Happy bday to you all, I’m wishing you all the best. God Bless You!!!!!!!!

The Wall, Kisah Klasik Sepanjang Segala Abad

Tuesday, July 19th, 2005

Suasana hati langit Singapura lagi nggak menentu. Akhir-akhir ini dia lagi sering menangis dan membuat badan dan suasana hati orang jadi agak murung. Gue adalah salah satu yang terpengaruh, selain badan jadi gak enak, bawaan juga jadi melankolis. 

Baru aja gue buka inbox yahoo mail gue dan nemuin email dari seorang kakak yang lagi kebentur sama "The Wall". Berhubung lagi melankolis jadi pengen ngebahas masalah The Wall ini.

Istilah The Wall, diperkenalkan pertama kali dalam hidup gue ketika kakak gue yang laen kepentok ama masalah ini. Sebenernya The Wall ini bentuknya bisa bermacam-macam, perbedaan suku, bangsa, ras, pola pikir, tapi pada umumnya sih perbedaan kepercayaan atau agama, istilah gue "beda baju". Saking seringnya gue nemuin masalah ini di sekitar gue dari temen dan sobat gue, termasuk gue sendiri, lama-lama masalah ini jadi kisah klasik sepanjang segala abad. Banyak cerita yang lahir gara-gara The Wall, bahkan gue bisa bikin novel kali, berdasarkan kisah hidup orang lain dengan latar belakang masalah ini.

Di dalam keluarga gue sendiri ada perbedaan agama. Lahir di keluarga yang berbeda, membuat gue merasa punya perspektif yang berbeda dalam memandang agama. Gue percaya kalo agama yang gue peluk adalah yang paling baik… buat gue. Dalam artian, gue ngeliat Tuhan itu gak hanya milik agama gue aja. Tuhan memanggil tiap orang dengan caranya sendiri, dengan keunikannya sendiri. Kalo Tuhan nggak manggil orang itu untuk mengikuti agama gue, berarti Dia akan manggil di jalan yang lain. In short, agama apapun adalah jalan menuju Dia.

Gue pikir agama adalah sarana untuk bertemu dan menjadi dekat dengan Dia, untuk mecintai dan memuliakan Dia. Ketika kita dekat dengan Dia, gue pikir, dengan agama apa pun yang kita anut, kita akan menghasilkan buah yang baik untuk kita sendiri dan untuk orang lain. "Dekat ama Dia" di sini, bukan berarti sebatas kita rajin sembahyang atau rajin baca kitab suci, atau memakai atribut-atribut keagaman. Tapi emang kita menyerahkan hidup kita sama Dia dan mencintai Dia sepenuh hati kita.

Dengan perspektif seperti ini, gue berpandangan bahwa gak masalah ketika dua orang yang berbeda keyakinan ingin menyatukan diri dalam cinta. Dalam artian mereka tau apa tujuan mereka apa, mereka sevisi dan bisa memahami pasangan mereka, tau konsekuensinya dan bersedia menjalankannya.

Ada konsekuensinya? Ya ada dunks… Misalnya, pada umumnya pola pikir dan cara hidup kita, secara disadari atau tidak akan berdasarkan keyakinan kita. Cara kita menimbang masalah, mengambil keputusan, dan bertindak akan berdasarkan apa yang kita anut (paham, agama, dsb). Bukan suatu hal yang mustahil, ketika kita memutuskan sesuatu atau bertindak sesuatu berdasarkan sudut pandang agama kita, ternyata "gak match" sama pola pikir pasangan kita. Di sini, kita harus hati-hati membahas isu ini. You see, kebenaran agama mungkin sekali menjadi hal yang mutlak bagi seseorang. Ketika kedua hal "yang mutlak" ditabrakan, kemungkinan terjadi friksi sangat besar. Dan kalau dua-duanya gak bisa mengambil jalan tengah, akan jadi sangat menyakitkan.

Kedua, masalah anak. Mungkin ada yang bakal menertawakan, "Tjit, jauh bener sih pikiran lu!" But man, dat would become a problem someday, if you are not properly discuss this stuff with your partner. Mau gak mau, kita harus mendidik anak kita berdasarkan prinsip kita juga, lah.. kita orang tuanya toh… Dan siapa yang ikut siapa, atau bagaimana cara mereka memilih agama, harus dipikirkan MATANG-MATANG, didiskusikan, dan diputuskan bersama. Jangan sampai menyesal suatu saat, ketika kita sendiri atau pasangan kita berubah di tengah jalan. Though, the possibility of changing is always there, at least by discussing it properly and deeply, it might reduce the risk.

Ketiga, there will be society pressure. We’re not live alone in this world. We live in a society with their cultures, rules, policies, etc. Kadang walaupun "di dalam" gak bermasalah, tapi tekanan datang dari luar. Orang-orang mungkin punya pendapat berbeda, tidak setuju, dsb, dan mulai memberikan "tekanan". Bukannya buruk sangka dengan orang lain, tapi dari pengalaman gue emang terjadi seperti itu. Mereka mungkin mulai memberikan pendapat atau bahkan gosip dan omongan ngelantur yang gak sedap. Atau mulai memberikan masukan yang kadang bisa bikin goyah keutuhan rumah tangga kita.

Keempat, feeling gak bisa share. Mungkin gak semua orang, tapi pada umumnya agama itu adalah yang pribadi dan mendasar. Ketika hal itu tidak bisa dimengerti oleh pasangan kita, mungkin ‘aja kita bisa merasakan suatu kekosongan dalam hidup.

Uuumm, sejauh ini sih gue cuman bisa mikir empat konsekuensi. Kalo mau nambahin ya monggo… Oh iya.. satu lagi, kok kelewat sih… faktor keluarga dan atau keluarga besar kita. Kadang untuk mempertahankan hubungan beda agama, kita juga harus fight menghadapi keluarga kita. Ini juga bukan hal yang mudah, mengingat keluarga kita adalah orang-orang yang kita kasihi juga dan kita gak pengen nyakitin mereka (hikss.. jadi teringat seseorang). Mungkin kuncinya adalah berani menghadapi inti masalah, tabah, ulet, tetap berusaha, sabar - gak mudah kebawa emosi, dan tetep berdoa supaya dikasih jalan yang terbaik sama Dia. Jalanannya mungkin berbatu dan berliku, makanya harus ada kesiapan dan komitmen dari pasangan itu sendiri.

Neways, "to convert" always can be an option. Tapi gue sih gak nyaranin kalo emang hati kita belum ngerasa cocok. Kecuali kalau kita sendiri merasa terpanggil, mungkin ketika ngeliat si dia sembahyang jadi tersentuh dan jadi ingin tau lebih dalam, dan setelah belajar dengan benar memutuskan untuk pindah, dsb. Tapi kalo misalnya hati dan jiwa kita belum bisa nerima, gue bilang sih jangan dipaksain, malahan akan membawa penyesalan dan dampak buruk untuk ke depannya.

Nulis sih emang gampang, gue sendiri berapa kali kepentok sama masalah ini dan belum berhasi work out. But I guess, our lives lie on His hand. So, manusia bisa berusaha, tapi tetep Dia yang punya keputusan apakah si dia yang bakal jadi pasangan hidup kita atau bukan.

Buat yang lagi struggle, I pray for you guys. Might be hard and painful, but only God knows what is waiting for you at the end of the road, so… there is always a hope to get through everything. =)

“French Fries and Chicken Foldover” Talk

Sunday, July 17th, 2005

Gue ngasih judul "French Fries and Chicken Foldover" Talk karena bahan tulisan kali ini gue dapet ketika gue makan di McDonald, West Coast Park, Sabtu kemaren (16 Juli 2005) ama Hendra.

Okie, short introduction about him. Hendra adalah salah satu abang gue. Dia adalah orang yang bisa gue ajak bertukar pikiran dan mendiskusikan segala macam hal. We talk about life, love, hopes, basketball, good times when we were in ITB (he was my seniour in ITB from different department, IF ‘97).

Dari sekian banyak pembicaraan, ada satu yang pengen gue angkat di sini. Dia sempet nanya ama gue, "Elu kalo berdoa ngapain?" Kaget juga nerima pertanyaan seperti itu, gue refleks menjawab, "Curhat". Dia meneguk Milo panasnya sebelum ngomong dengan serius, kira-kira kayak gini, "Ya itu bagus kalo lu bisa ngomong dan cerita apa aja sama Dia. Kalo bagi gue sih, waktu kita berdoa, kita menyerahkan segalanya sama Dia.  Lu bener-bener ngasih dan mempercayakan seluruh hidup lu sama Dia."

Gue terhenyak sesaat. Apa yang dia omongin bukan hal baru bagi gue. Hanya aja, somehow gue lagi lupa sama hal itu. Menyerahkan segalanya bukan berarti pasrah dan lenggang kangkung (everbody knows dat I guess), but in some level, bagi gue emang agak susah untuk berhenti khawatir tentang hidup gue. Masih suka pusing sama hal-hal kecil yang sebenerya gak perlu dirisaukan. Masih suka freak out sama hal-hal besar yang gue pikir gak bisa gue handle. Gue lupa, kalo Dia udah punya rencana yang indah buat gue, buat kita semua. Jadi sebenernya gak usah terlalu khawatir sama hidup, though it doesn’t mean we can stop trying, learning, and working out in our lives.

"Terjadilah padaku, seturut kehendak-Mu", gue berharap gue bakal terus belajar untuk mengimplementasikan hal tersebut. Mungkin, itu salah satu hal kenapa gue dipanggil ke Singapur, supaya gue bisa terus belajar untuk menyerahkan hidup gue sama Dia. Thanks banget, Bang, buat ngingetin gue =)

God bless all of us and of course… you too!

Ida is in The Town

Sunday, July 17th, 2005

Ama_ida_west_coast_park_2This Saturday (16 July 2005), finally, one of my bestfriends came to Singapore! Ida Susanti, one of most talented people that I’ve ever met. Salah satu bakat Ida adalah nyanyi. She got a beautiful voice!! Gak heran dunks kalo dia termasuk salah satu anggota UNPAR Catholic University Choir. Bahkan beliau adalah salah satu solis!!!

Jadi ceritanya, PSM Unpar (eh.. ga pa-pa kan kalo nulisnya PSM aja =D) ikutan festival di Taipei dan Kyoto. Sebelum ke Taipei, mereka diundang untuk manggung di Singapore di West Coast Park dalam acara Acapella Attack. Untuk paduan suara sekelas mereka, rasanya aneh juga ngeliat mereka manggung di sebelah McDonald dengan panggung nan mungil.

Walaupun panggung dan suasananya gak memadai plus mereka juga sepertinya gak "all out", tapi TEUTEP dunkss… KEREN ABIS!!! Mereka ngebawain lagu-lagu daerah, seperti Janger, Cingcangkeling, dan lain-lain. Dikemas dengan aransemen yang dinamis dan koreografi yang menarik (ugh.. coba kalo panggungnya lebih bagus lagi), lagu-lagu daerah yang tadinya sudah mulai terlupakan jadi benar-benar menyentuh hati. Mungkin gak kerasa kali ya kalau lagi di Indonesia, tapi kalau lagi di luar negeri, lagu-lagu itu jadi tambah menyadarkan kalo gue emang anak Indonesia. Dalam hati kecil sebenernya gue agak malu, mengingat gue sendiri gak terlalu banyak tau budaya bangsa sendiri. Ugghh, jadi pengen pulaaangg.. hehehe…

Okie, kembali ke performance mereka. Salah satu lagu yang cukup bikin terpana adalah lagu dari Aceh. Mereka juga menyuguhkan tarian Aceh. Jadi ikutan bangga juga loh… hehehe… Sayang banget performance mereka hanya sebentar (menurut gue ;p)

Setelah mereka selesai, gue sempet ketemuan ama Ida dan janjian ketemu lagi ntar maleman, soalnya beliau harus ganti baju juga toh. Akhirnya sambil menunggu gue makan malam di McD ama Abang Hendra. Pas nunggu bis, kita ketemu sama orang Indonesia juga dan dua anaknya yang lucu, Audri dan Aurelia. Audri, bocah berusia 4 tahun, sangat supel dan riang. Dalam beberapa menit aja kita udah langsung akrab. Adiknya yang baru 2 tahun lebih pemalu. Tapi entah kenapa, kita cepet akrab, dan kita bertiga jadi foto-fotoan pake kamera gue dan sempet nyanyi-nyanyi juga. Hihihi, lucu deh… padahal baru banget ketemu. Pas bisnya dateng, Aurelia minta digendong! Upss.. terus terang… I’m bad with kid, jadi rada kagok juga… tapi dia nggak protes tuh pas gue gendong walaupun kayaknya kakuuuu banget. Gue ama Hendra turun di Pasir Panjang dan kita berpisah deh.

Gue nerusin perjalanan ke Harbour Front trus ke Dobby Ghaut dan akhirnya Orchard. After waiting for quite sometime, akhirnya gue ketemu Ida ama temennya Joice. Mereka mampir ke Bread Talk dulu dan kita hang out di Orchard. Hang out di sini sama dengan duduk di pinggir jalan. Hehehe… We had a pleasant chatting. Too bad, they had to go early in the morning, so about an hour later, we had to say goodbye. All the best for the concert, guys! Duh, Da, gue dah kangen lagi neh… moga2 lu mampir lagi ke Singapur setelah dari Kyoto ya… jadi kita bisa jalan-jalan lebih lama!!

Sesamar Bayang

Friday, July 15th, 2005

Mungkin ku hanya sesamar bayang
Singgah dan menghilang
Mungkin ku hanya tiupan angin lalu
Bahkan tak layak tuk teriakkan pilu

Kau dan aku tak pernah satu
Lalu kenapa ego masih mengganggu?
Adakah ini dendam?
Sejenak merebah di pojok suram?

Satu masa yang terlipat
Haruskah kubiarkan jadi kesumat?
Selamat tinggal…
Biarkan kita tak saling mengenal…

(for a shadow in my long time past who suddenly creeping tonite… gosh it such a billion years ago…)

Di Persimpangan Jalan

Friday, July 15th, 2005

Dingin…
Buku-buku jari yang beku membiru terbuai angin sendu…
Di bawah lampu temaram menunggu waktu pecahkan sunyi…
Ya.. si angkuh yang bernama waktu, menggilasku perlahan dan meninggalkanku…
Di persimpangan jalan, kuhembusi jari-jariku
Tak sanggup terawang gelap yang bersalju…

Kembali, benak berlari menyusuri hati…
Hari-hari musim semi mengajakku menari
Senandungkan kisah lalu yang kembali dengan pelangi…
Di satu sisi, pesona yang mengabur dalam cahaya kota..
Menggoda imaji tuk coba merengkuh anggunnya malam…

Sang waktu seakan tak peduli…
Tak juga pecah sunyi namun tinggalkan ku pasti…
Masih… di bawah temaram lampu jalan.. kuhembusi jari-jari…
Memunguti yang tersisa di dalam diri… sebelum melangkah lagi…

Jimz… “Sang Legenda Muncung yang Tak Kunjung Padam”

Friday, July 15th, 2005

Jimmy Gunarso alias Jimz. Gue suka sebutan "Jimz" kedengarannya simple but sure dan tentu saja "gaya"! Jimz terkenal dengan "Legenda Muncung yang Tak Kunjung Padam". Muncung… mungkin kedengarannya kasar ya… padahal emang kenyataannya muncung beliau ini yang membuat beliau tenar. Aksi "bibir yang dimonyong-monyongkan" memang cuman Jimz yang jago dan tidak ada bisa yang menandingi. Aksi muncung ini terutama keluar saat sesi curhat "Realis Pahit" (maap kalo salah namanya). Atau ketika ada seseorang atau sesuatu yang kurang berkenan.. muncullah…si muncung kesayangan kita…

Tapi… Jimz bukan sekadar muncung. Bagi gue, Jimz is an everlasting brother, a brother for a lifetime. Dia mungkin gak banyak berkata-kata manis, walaupun Jimz cukup lihai menggubah kata dan membingkainya dengan cinta (cieeehh), tapi yang dia lakukan lebih dari sekedar kata-kata atau janji-janji angin lalu. Jimz adalah seseorang bakal selalu hadir saat apa pun juga. Ketika sayap terasa lelah dan pandangan mengabur, tanpa harus minta dua kali, dia bakalan ada di samping lu untuk melakukan apa pun semaksimal dia bisa. Pernah suatu saat, adik gue lagi bermasalah ama polisi, ortu gue harus pergi jam 3 pagi. Di tengah kepanikan, gue telpon dia, dan jam 3 pagi juga.. dia jalan dari Cisitu ke Kanayakan, cuman buat nemenin gue. Gue bahkan gak nelpon cowok gue (mantan-red), karena tahu dia gak bakalan datang. Tapi seorang Jimz… selalu ada ketika lu butuh shelter.

Jimz itu punya 1000% toleransi. Kadang gue sendiri kesel karena dia suka terlalu baik ama orang, dan kadang walaupun orang itu sepertinya memanfaatkan dia, dia akan selalu dengan senang hati meringankan tangan membantu dan menepikan batas toleransinya.

Though he has a lot of skills (left and right brain skills :D) and also knowledge, he always be humble. Walaupun dia gak suka dipanggil Jimmy Tambang, tapi gue selalu ngerasa his belong in this mining areas. Gak hanya masalah teknik, dari segi kreatifitas Jimz juga bisa diacungi jempol. Bukti nyata, dia ikut mempelopori Lentera, majalah KMK (sekarang masih gak ya?), berkiprah banyak waktu kita buat film Natal KMK, dengan sukarela ngebuat film yang manis banget buat ULTAH gue (isinya tentang komen temen2 dan keluarga gue soal gue… hiksss… terharu), trus dia ngebikin buletin edisi khusus gue pas gue ultah taun kemaren sebelum berangkat ke Singapore, berapa banyak presentasi yang digarap ama dia pake FLASH and sukses… pokoknya banyak banget daaaaahhh, gak cukup seluruh blog ini dipake buat nge-list…

Dalam banyak hal, pandangan kita sama. Termasuk soal agama. Kita memang beragama, tapi kita bukan orang agama. Hihihi… bingung nggak? Dalam artian, kita sama-sama merasa nyaman mengenakan "baju" kami, tapi gak pernah pengen memaksakan orang lain untuk memakai "baju" yang sama. Bagi kami, agama hanya satu jalan dari sekian banyak jalan untuk memuliakan Dia. Walaupun, agak sedih juga karena populasi kami semakin berkurang. Hehehe…

Dalam urusan cinta, Jimz salah satu orang yang paling setia yang pernah gue temui. Mungkin ini juga berkaitan dengan toleransi 1000%-nya dia. Kalo dah mencintai seseorang, dia gak bakalan beralih walaupun badai menghadang. Dan dia bakal ngasih apa aja ke orang yang dia cintai. Uumm… sebenernya cinta di sini gak hanya buat cinta lawan jenis, tapi juga berlaku untuk cinta sahabat dan keluarga.

Jimz adalah R&B. R&B is the way his living. Musik kita berdua emang beda banget, tapi somehow jadi saling melengkapi juga. Gue sekarang lebih toleran sama R&B, dan Jimz lebih bisa ngedengerin lagu2 britpop. Hehehe.. Tapi kita punya satu band favorit… Sheila on Seven! :))

"Kita selalu berpendapat kita ini yang terhebat. Kesombongan di masa muda yang indah. Aku raja kau pun raja. Aku hitam kau pun hitam. Arti teman lebih dari sekedar materi. Pegang pundakku jangan pernah lepaskan, bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar" -SAHABAT SEJATI, Sheila on Seven-

Gue harap persahabatan kita gak akan pernah lekang oleh waktu. Although I know, people do change. Kita buka lebar pelukan mentari, yo bro!!! Peace!!!

Life is About Making Choices

Monday, July 11th, 2005

Kadang gue berharap hidup bisa seperti membaca buku "Pilih Sendiri Petualanganmu". Dulu, waktu masih kelas 2 SD, ada satu buku dari seri ini yang gue sukaaaa bangeeet, Petualangan Suku Maya. Gue emang suka ancient history apalagi yang berbau-bau magis model Maya, Mesir, dan legenda Yunani. Di buku ini, selain gue bisa mengkhayal jalan-jalan ke jaman Maya, gue selalu bisa balik lagi ke halaman sebelumnya kalau ternyata kisahnya berakhir buruk. Atau kadang gue menghapal halaman mana yang harusnya gue pilih, kalau gue gak pilih halaman ini, gue harusnya ke halaman mana, gimana akhirnya… dst..

In the real life, you just can’t have it everything. You have to choose one way or another way. And you just can’t turn back the time. Yes, you might feel regret with what you have chosen, but you have to stay in the path that you walk on.

Suatu malam, gue diskusi panjang dengan adek gue. Si ketjil yang ternyata udah dewasa itu mendebat gue dengan bilang, kadang hidup gak ngasih pilihan. Well, I’m not totally agree with him. Masalahnya, kadang emang kayaknya kita tersudut gak bisa apa-apa, tapi sebenernya kita selalu bisa memilih. Bahkan untuk tidak memilih pun adalah sebuah pilihan, menurut kakanda Kuntowiyoga. Intinya bukan gak ada pilihan, tapi berani atau nggak kita ngadepin konsekuensi dari pilihan itu.

Running away is always be a temptation. Well, at least for me. But still, it doesn’t resolve the problems. At the end of the day, you would face the same option.

Kadang, kita tau pilihan mana yang bener, tapi terlalu males untuk konsekuen ama resikonya. Ada pilihan-pilhan laen yang kadang dikemas lebih cantik dan menarik, yang menggoda kita untuk melupakan satu hal yang bernama integritas.

Waktu SMP gue diajarin satu lagu The Greatest Love of All, lirik favorit gue di lagu ini: "I decide a long ago never to walk in anyone shadow. If I failed if I succeed, at least I live as I believe. No matter what they take from me, they can’t take away my dignity." Well, gue pernah nanya ama my dear teacher, Mr. Jojo, gimana kita tau pilihan kita bener apa nggak, gimana kita tau "what I believe" is true or not. Gue lupa dia jawab apa, tapi sekarang gue tau… Kita gak akan pernah tau sampai kita ngejalaninnya. Ketika kita benar atau salah, di situlah kita dapet pembelajaran.

Jadi ngapain coba gue berkotbah di sini? Sebenernya buat ngingetin gue sendiri. Every choice has it is own risk, the question is do you ready to bear the consequences and keep your integrity. Nah loh Tjit.. gimana cing…