The Wall, Kisah Klasik Sepanjang Segala Abad

Suasana hati langit Singapura lagi nggak menentu. Akhir-akhir ini dia lagi sering menangis dan membuat badan dan suasana hati orang jadi agak murung. Gue adalah salah satu yang terpengaruh, selain badan jadi gak enak, bawaan juga jadi melankolis. 

Baru aja gue buka inbox yahoo mail gue dan nemuin email dari seorang kakak yang lagi kebentur sama "The Wall". Berhubung lagi melankolis jadi pengen ngebahas masalah The Wall ini.

Istilah The Wall, diperkenalkan pertama kali dalam hidup gue ketika kakak gue yang laen kepentok ama masalah ini. Sebenernya The Wall ini bentuknya bisa bermacam-macam, perbedaan suku, bangsa, ras, pola pikir, tapi pada umumnya sih perbedaan kepercayaan atau agama, istilah gue "beda baju". Saking seringnya gue nemuin masalah ini di sekitar gue dari temen dan sobat gue, termasuk gue sendiri, lama-lama masalah ini jadi kisah klasik sepanjang segala abad. Banyak cerita yang lahir gara-gara The Wall, bahkan gue bisa bikin novel kali, berdasarkan kisah hidup orang lain dengan latar belakang masalah ini.

Di dalam keluarga gue sendiri ada perbedaan agama. Lahir di keluarga yang berbeda, membuat gue merasa punya perspektif yang berbeda dalam memandang agama. Gue percaya kalo agama yang gue peluk adalah yang paling baik… buat gue. Dalam artian, gue ngeliat Tuhan itu gak hanya milik agama gue aja. Tuhan memanggil tiap orang dengan caranya sendiri, dengan keunikannya sendiri. Kalo Tuhan nggak manggil orang itu untuk mengikuti agama gue, berarti Dia akan manggil di jalan yang lain. In short, agama apapun adalah jalan menuju Dia.

Gue pikir agama adalah sarana untuk bertemu dan menjadi dekat dengan Dia, untuk mecintai dan memuliakan Dia. Ketika kita dekat dengan Dia, gue pikir, dengan agama apa pun yang kita anut, kita akan menghasilkan buah yang baik untuk kita sendiri dan untuk orang lain. "Dekat ama Dia" di sini, bukan berarti sebatas kita rajin sembahyang atau rajin baca kitab suci, atau memakai atribut-atribut keagaman. Tapi emang kita menyerahkan hidup kita sama Dia dan mencintai Dia sepenuh hati kita.

Dengan perspektif seperti ini, gue berpandangan bahwa gak masalah ketika dua orang yang berbeda keyakinan ingin menyatukan diri dalam cinta. Dalam artian mereka tau apa tujuan mereka apa, mereka sevisi dan bisa memahami pasangan mereka, tau konsekuensinya dan bersedia menjalankannya.

Ada konsekuensinya? Ya ada dunks… Misalnya, pada umumnya pola pikir dan cara hidup kita, secara disadari atau tidak akan berdasarkan keyakinan kita. Cara kita menimbang masalah, mengambil keputusan, dan bertindak akan berdasarkan apa yang kita anut (paham, agama, dsb). Bukan suatu hal yang mustahil, ketika kita memutuskan sesuatu atau bertindak sesuatu berdasarkan sudut pandang agama kita, ternyata "gak match" sama pola pikir pasangan kita. Di sini, kita harus hati-hati membahas isu ini. You see, kebenaran agama mungkin sekali menjadi hal yang mutlak bagi seseorang. Ketika kedua hal "yang mutlak" ditabrakan, kemungkinan terjadi friksi sangat besar. Dan kalau dua-duanya gak bisa mengambil jalan tengah, akan jadi sangat menyakitkan.

Kedua, masalah anak. Mungkin ada yang bakal menertawakan, "Tjit, jauh bener sih pikiran lu!" But man, dat would become a problem someday, if you are not properly discuss this stuff with your partner. Mau gak mau, kita harus mendidik anak kita berdasarkan prinsip kita juga, lah.. kita orang tuanya toh… Dan siapa yang ikut siapa, atau bagaimana cara mereka memilih agama, harus dipikirkan MATANG-MATANG, didiskusikan, dan diputuskan bersama. Jangan sampai menyesal suatu saat, ketika kita sendiri atau pasangan kita berubah di tengah jalan. Though, the possibility of changing is always there, at least by discussing it properly and deeply, it might reduce the risk.

Ketiga, there will be society pressure. We’re not live alone in this world. We live in a society with their cultures, rules, policies, etc. Kadang walaupun "di dalam" gak bermasalah, tapi tekanan datang dari luar. Orang-orang mungkin punya pendapat berbeda, tidak setuju, dsb, dan mulai memberikan "tekanan". Bukannya buruk sangka dengan orang lain, tapi dari pengalaman gue emang terjadi seperti itu. Mereka mungkin mulai memberikan pendapat atau bahkan gosip dan omongan ngelantur yang gak sedap. Atau mulai memberikan masukan yang kadang bisa bikin goyah keutuhan rumah tangga kita.

Keempat, feeling gak bisa share. Mungkin gak semua orang, tapi pada umumnya agama itu adalah yang pribadi dan mendasar. Ketika hal itu tidak bisa dimengerti oleh pasangan kita, mungkin ‘aja kita bisa merasakan suatu kekosongan dalam hidup.

Uuumm, sejauh ini sih gue cuman bisa mikir empat konsekuensi. Kalo mau nambahin ya monggo… Oh iya.. satu lagi, kok kelewat sih… faktor keluarga dan atau keluarga besar kita. Kadang untuk mempertahankan hubungan beda agama, kita juga harus fight menghadapi keluarga kita. Ini juga bukan hal yang mudah, mengingat keluarga kita adalah orang-orang yang kita kasihi juga dan kita gak pengen nyakitin mereka (hikss.. jadi teringat seseorang). Mungkin kuncinya adalah berani menghadapi inti masalah, tabah, ulet, tetap berusaha, sabar - gak mudah kebawa emosi, dan tetep berdoa supaya dikasih jalan yang terbaik sama Dia. Jalanannya mungkin berbatu dan berliku, makanya harus ada kesiapan dan komitmen dari pasangan itu sendiri.

Neways, "to convert" always can be an option. Tapi gue sih gak nyaranin kalo emang hati kita belum ngerasa cocok. Kecuali kalau kita sendiri merasa terpanggil, mungkin ketika ngeliat si dia sembahyang jadi tersentuh dan jadi ingin tau lebih dalam, dan setelah belajar dengan benar memutuskan untuk pindah, dsb. Tapi kalo misalnya hati dan jiwa kita belum bisa nerima, gue bilang sih jangan dipaksain, malahan akan membawa penyesalan dan dampak buruk untuk ke depannya.

Nulis sih emang gampang, gue sendiri berapa kali kepentok sama masalah ini dan belum berhasi work out. But I guess, our lives lie on His hand. So, manusia bisa berusaha, tapi tetep Dia yang punya keputusan apakah si dia yang bakal jadi pasangan hidup kita atau bukan.

Buat yang lagi struggle, I pray for you guys. Might be hard and painful, but only God knows what is waiting for you at the end of the road, so… there is always a hope to get through everything. =)

2 Responses to “The Wall, Kisah Klasik Sepanjang Segala Abad”

  1. Paulus Says:

    girls, you’ve grown up, eh? :). Way to go, hehehe

  2. Wary Says:

    Ehm…good points Tjit. Aku cuman mau nambahin, perbedaan agama di sini aku lebih senang dengan istilah “perbedaan keyakinan” karna sama agama belum menjamin sama keyakinan =)
    Biar sama agama dan keyakinan, tapi masih juga ada unsur kebebasan pribadi yang dipengaruhi oleh faktor keberanian memperjuangkan keyakinan.
    Dan memang setuju faktor SARA itu emang faktor yang kuat dan rada susah untuk ditembus. Ga tau apa ada tips atau cara yang mujarab ya?

    Anyway, salut sama kamu. You have such a great experience. All the best for you too.

Leave a Reply