Wanna be… Wanna be Happy…
“Hidup itu udah susah, jangan dibuat lebih susah lagi”, seinget gue, gue baca tulisan ini di buku kenangan gue pas SMA. Entah berapa banyak orang yang menggunakan semboyan ini atau “Hidup itu cuman sekali buat apa dibikin susah”. Yang pasti, secara nggak sadar gue malah lebih sering menggunakan semboyan yang berlawanan,”Kalau bukan susah, itu namanya bukan hidup”.
Seseorang yang pernah jadi tumpuan gue, yang selalu tau apa yang terjadi dengan gue, malah sempat bilang, “Tjit, kok kayaknya elu tuh susah terus sih, jadi khawatir ama elu”. Pada saat itu, gue malah mengubah mode gue jadi mode bertahan dan menganggap kalo dia yang salah.
Setelah direnungkan, ternyata memang gue gak mudah menikmati hidup. Menurut buku Personality Plus, Laurence, gue termasuk tipe melankolis-koleris. Orang melankolis cenderung perfeksionis, punya standar yang tinggi, sensitif, tekun, talented, dan moody banget. Orang koleris cenderung nggak populer, bakat leadershipnya seringkali dibarengi dengan sifat agresif dan kompetitif, berorientasi target, dan sering merasa bersalah kalau meluangkan waktu untuk hal yang tidak produktif.
Gak jarang, ketika gue meraih sesuatu atau lagi ngerasa seneng, tiba-tiba ada satu suara yang bilang, “Eh, jangan terlalu seneng, ntar kalo kenyataannya ternyata gak gitu, lu bakal kecewa sendiri loh.” Misalnya aja, supervisor gue muji kerjaan gue. Sesaat gue ngerasa seneng, tapi beberapa saat kemudian ada suara yang bilang, “Kok segitu ‘aja udah seneng sih? Kayaknya elu bisa ngerjain hal yang lebih baik kok.” Atau misalnya, ketika hubungan gue dengan someone special lagi hangat-hangatnya, tiba-tiba ada suara yang bilang, “Iya sih sekarang seneng, tapi gimana ya ntarnya kita kan banyak banget perbedaan.”
Menurut abang Hendra, reality check itu perlu. Gue pikir juga, kalo kita terlalu kebawa perasaan atau terlalu memegang asumsi kita terhadap state kita sekarang ini, tanpa melakukan verifikasi terhadap kenyataan sebenernya, kita bakal tersesat dan bahkan mungkin stagnan. Stagnan karena kita udah merasa nyaman dan puas dengan hasil yang kita miliki, sehingga bakat kita gak berkembang secara optimum.
Hanya ‘aja, kalau misalnya dibawa ke titik ekstrim atau diaplikasikan secara gak seimbang, hasilnya… kita bakal susah menikmati hidup kita. Emang gak ada aturan pakem gimana supaya bisa mendapatkan keseimbangan yang pas. We have to learn by ourselves. Yang jelas, gue sekarang mencoba melonggarkan baju gue. Artinya kalau gue sedang merasa bahagia, gue akan menikmati momen itu. I wanna live and treasure each moment in my life. I wanna be thankful to Him for everything that He gives to me.
I promise myself I wanna make her happy. Gue mau share cerita gue selama di Singapura. Ini kali pertama gue keluar Bandung dan “hidup sendirian”. Buat gue bukan hal yang mudah, mungkin juga karena gue gak pedean dan seringkali manja. It took me nearly a year before I could adapt here. No family and close friends. Even sometimes wonder, what I can do here, how about my future, and so on. Jatuh bangun, akhirnya gue sadar. Kalau gue gak mengijinkan gue sendiri bahagia, dan terlalu takut akan segala sesuatunya, gue gak akan pernah “benar-benar hidup”.
Sekarang gue lagi magang di perusahaan. With my Engineering Physic and Rapid Product Development as my background which quite general, sometimes I feel I do not have much to offer. Akhirnya, gue memutuskan untuk berusaha sebaik mungkin yang gue bisa dan menikmati satu tahun masa magang gue. Karena mungkin aja tahun depan gue bakal susah nyari kerja. Anehnya, kita gue mencoba “let it flow”, hidup malah kerasa lebih ringan.
Gue adalah tipe orang yang harus tau mau jalan ke mana baru bisa melangkah dengan enak. Di Singapur, there are too much unknown variables. Kalo dipikirin satu-satu, I will be going nuts! Gue ngerasa, di sini gue harus belajar nge-flow and berserah. BERSERAH, mungkin jadi salah satu kuncinya. Gue baru sekarang ngerasain, begitu banyak ketidakpastian yang membuat gue kadang susah untuk membuat rencana atau bahkan gak punya rencana. It doesn’t mean I stop trying. It just… I have to take things slower and not to be too demanding. Do my best, GOD do the rest. I am learning how to have faith that HE already has a plan for me.
“Tapi apapun yang terjadi, akan kujalani, akan kuhadapi dengan segenap hati. Walau ku terluka, memang ku terluka, tak pernah kulari dari semua ini.” Kata Sheila on Seven di salah satu lagunya “Jalan Terus”. I wanna live my life everyday, touch other people life, always give my best, share His bless with others and… be happy.
August 16th, 2005 at 2:02 am
Halo Tjita..
still remember me ?
psst..
saya suka yg ini..
“Do my best, GOD do the rest.”
klo saya,
ada tambahannya lagi..
“Just keep a life”
hehehe..