Charlie and The Chocolate Factory
Tuesday, August 16th, 2005Rate:
Charlie and Chocolate Factory is a simple and sweet movie. Gue pikir film ini emang diperuntukkan buat anak-anak. Gue biasanya gak suka tipe film yang terlalu sederhana, yang dengan mudah ketebak akhirnya, dan di mana hitam adalah hitam dan putih adalah putih. But neways, this movie is a remake one, I had already known the story and my expextation was not too high.
Singkat resensi, Willy Wonka, empunya pabrik coklat terbesar di dunia yang luar biasa eksentrik dan jenius, berpikir untuk mencari pewaris dengan cara menyebarkan 5 Golden Ticket ke seluruh penjuru dunia.
Pabrik cokelat Willy Wonka emang luar biasa, sesuai banget ama imajinasi gue tentang pabrik cokelat ideal. Favorit gue adalah taman cokelat dan permen, di mana mengalir air terjun dari cokelat, pohon permen apel, bunga marshmallow, rumput permen, sungai cokelat… waaaa!!!! Satu lagi tempat favorit gue adalah tempat di mana Willy Wonka menempatkan ratusan tupai yang udah dilatih untuk memilih kenari. They are so cute!!! Btw, ternyata yang bekerja buat Willy Wonka adalah makhluk-makhluk kecil (small but not cute – gue lupa namanya apa.. Oopa Loompa something gituw…).
Di sepanjang tur, anak-anak itu mulai tereliminasi (hihihi… AFI banget gak siy?). Setiap satu anak tereliminasi Oopa Loompa bakalan nyanyi dan nari-nari (which was kinda annoying for me ;p) Perlahan-lahan, diterangin juga kenapa Willy Wonka bisa esentrik kayak gitu. Di masa lalu, hubungan Willy Wonka dengan ayahnya gak terlalu baik. Ayahnya adalah seorang dokter gigi pembenci cokelat dan permen, sampai akhirnya Wonka punya obsesi tertentu terhadap coklelat.
Akhir cerita, setelah Charlie bertahan sampai akhir, Wonka mewariskan pabriknya, dengan syarat Charlie harus meninggalkan keluarganya, karena mereka hanya bikin repot. Charlie bilang keluarganya adalah hal terpenting di dunia dan gak akan ditukar dengan apapun. Akhir cerita, setelah Wonka dengan bantuan Charlie berdamai dengan masa lalunya, mereka semua diboyong ke pabrik cokelatnya.
Segala sesuatu digambarkan dengan lugas di film ini. Contohnya, rumah Charlie, anak miskin yang baik hati dan menyenangkan, benar-benar dibuat miring dengan atap yang bolong-bolong. Nenek dan kakek dari kedua belah pihak tinggal di rumah yang sama dan mereka berempat tidur di satu kasur berdesak-desakan. Tiap hari mereka hanya makan sop kol karena ayah Charlie hanya bekerja sebagai pekerja di pabrik pasta gigi. Terus terang, gue tersentuh ama kehangatan keluarga mereka. Betapa mereka ngebela-belain beli cokelat buat Charlie, walaupun buat makan aja susah. Waktu ayah Charlie sempat dipecat, ibunya hanya meluk ayah Charlie dan bilang semua akan baik-baik saja.
Three stars for this movie. This is not kinda of high tech movie (although it has quite good animation) with extraordinary plot. Like I said before, this movie is simple and sweet… like chocolate…