Talkin’ Bout EMO
“What’s the worst thing I can say, things are better if I stay… So long and goodnight, so long and goodnight..”
Mengambil setting di sebuah gereja dengan atmosfer pemakaman seorang gadis cantik, My Chemical Romance menghantarkan “Helena”, salah satu hits mereka, dengan sangat artistik. Suasana Gereja Katolik yang klasik dipadukan dengan musik yang hingar bingar dan lagu yang terdengar sangar namun pedih, berikut tarian balet modern yang turut melukiskan kepedihan isi lagu, membuat gue jatuh cinta setengah mati dengan “Helena”.
Sebelumnya, “I’m Not Okay” dari My Chemical Romance sudah sedikit banyak mencuri hati gue. Lately, banyak banget band-band bernuansa punk-rock yang mencoba menggebrak dunia musik, sebut aja Simple Plan, Bowling For Soup, Relient K, dan masih banyak lagi. Di telinga gue sih, semuanya kedengeran hampir sama, pada umumnya mereka meneriakkan isi hati remaja, feeling lonenly, tertekan karena keluarga, pergaulan, etc, or just simply love story. Simak aja Simple Plan dengan liriknya, “hey dad look at me, think back and talk to me, did I grow up according to plan…” dalam Perfect.
Hanya ‘aja gue ngerasa ada suatu yang beda dengan band-band punk-rock sekarang. Talkin’ about punk always brings “Green Day” on the spot. Jaman gue masih muda (cieeh), jaman-jaman SMP, Green Day bisa dibilang salah satu “big icon of punk music”. Well, walaupun mereka jadi sedikit soft, tapi punk-rock band sekarang lebih menawarkan lirik lagu yang ringan dan manis, dan gak segan bicara soal cinta, which is (I thot) it was kinda taboo to speak about love in such obvious way, ‘coz punk always have this rough and ignorance image.
Sekitar bulan Mei lalu, thanks to Yoga, gue baru tau kalo aliran ini dinamakan Emo alias “emotional-punk”. Aliran musik ini berevolusi di US sejak 90’an. Perbedaan Emo dengan traditional punk music adalah Emo menitikberatkan emosi yang diekspresikan melalui lirik-lirik patah hati atau lirik pedih, depresi, atau marah. Gak heran kalo Emu band membungkus lagu mereka dengan kord progresif dan tentunya tempo cepat penuh energi. Sentuhan harmoni paduan keras dan lembut merefleksikan perubahaan mood yang menjadi latarbelakang dari lagu itu sendiri. (http://iml.jou.ufl.edu/projects/Spring03/Seawell/music.htm)
Dandanan Emo gak jauh beda dengan dandanan punk-ers pada umumnya; celana baggy dengan t-shirt “baju adek” plus ikat pinggang hitam dengan aksesori. Body piercing juga gak ketinggalan, hanya ‘aja diusahakan tampak “natural”. Kalau traditional punk identik dengan rambut rancung warna-warni, Emu fans biasanya mewarnai rambut mereka dengan warna hitam dan buat para cewek yang jadi trend adalah model rambut pendek semi acak-acakan. Aksesori logam dan kayu cukup populer dan pada umumnya “homemade” plus sepatu model 1970-an dan jaket. (http://iml.jou.ufl.edu/projects/Spring03/Seawell/fashion.htm)
Belakangan ini, gue lagi demen banget sama Dashboard Confenssional. Lirik mereka yang unik dan musik mereka simple but enjoyable, contohnya gue ambil dari salah satu lagu mereka “Hands Dow”:
"My hopes are so high that your kiss might kill me… So won’t you kill me, so I die happy… My heart is yours to fill or bust, to break or bury, or wear as jewelry, which ever you prefer"
Buat gue musik gak hanya susunan nada, bukan hanya masalah enak-gak enak didenger. Musik dan lagu adalah ekspresi. Ekspresi dari diri kita sendiri, ekspresi perasaan, pikiran, dan mood kita. So, although some people mark Emo as a whimp genre, I say they brave enough to express whatever they feel and creative enough to craft such kind of music that can move anybody else.
September 22nd, 2005 at 10:57 pm
Music also brings you to other world. Sometimes it’s a beautiful world that we passed in this speedway life..