Patah Hati Berjuta Rasanya
Sunday, October 16th, 2005"Kayaknya kalo jadi pemulung, kita gak bakalan mikir yang aneh-aneh. Mungkin yang paling terpikir adalah gimana bisa makan besok hari. Gak ada pemikiran, siapa cinta sejati gue, kenapa dia mesti mutusin gue, dsb. Mungkin kita ini suka gak bersyukur ya Cit…"
Weekend ini gue kedatangan tamu istimewa dari Pulau Karimun. My dear brother, Jimz, has visited me with his wounded heart. Then beside Singapore River, in front of Esplanade, that statement came out.
Gue lupa apa gue pernah nulis ini sebelumnya, hanya ‘aja waktu gue masih muda (huhuy!!) sering terlintas di pikiran gue, "What is the big deal with breaking up, kenapa orang-orang bisa sebegitu jatuhnya, gengsi banget sih kalau hidup jadi semrawut hanya gara-gara masalah cinta." Well, time is passing by and guess who could be so whiny and sensitive when she gets broken heart???
Sebenarnya, gue juga gak tau apakah hukum patah hati ini bersifat universal. Contohnya pernyataan dari Jimz yang ada kaitannya dengan teori Maslow. Mungkin, bagi orang-orang yang masih harus berjuang untuk tetap bertahan hidup, yang nggak tahu besok mau makan apa, yang belum bisa memenuhi kebutuhan dasar, apa mereka juga punya cukup energi untuk berkutat di masalah percintaan. Apakah artinya bagi orang yang sudah cukup mapan hidupnya, seringkali gak bersyukur dengan apa yang kita punya, dan akhirnya masalah "kecil" jadi sesuatu yang besar dan bisa mempengaruhi hidup kita.
Anyway, i am so bad in handling broken heart. Mulai dari susah makan, susah tidur dan susah bangun. Bangun tidur adalah bagian terburuk, karena tiba-tiba dada gue terasa hampa. Konsentrasi buyar dan jadi males buat bersosialisasi, atau nelpon temen-temen untuk sekedar ngomong betapa nggak enaknya perasaan gue saat itu (btw, thanks banget buat Mbak Arien yang selalu jadi pendengar setia yang gak ada bosennya!!!).
Hari ini tergelitik untuk menggali kenapa itu semua bisa terjadi. Well, kehilangan sesuatu atau seseorang memang bukan perasaan yang nyaman. Kehilangan barang ‘aja kadang suka bikin bete, apalagi seseorang yang sangat berarti. Pertanyaan berikutnya, apakah itu berarti ada rasa memiliki? Padahal, katanya kalo kita memang tulus mencintai, kita gak akan merasa memiliki dia, apapun yang dia lakukan, kita akan tetap mencintai dia dan bahagia buat dia. Apakah perasaan memiliki jadi suatu yang tidak terhindarkan bahkan jadi suatu bagian dari sebuah hubungan?
Lalu, kadang terpikir, apakah benar yang disesali adalah kehilangan orang itu atau hanya sekedar "bayangan atau asumsi yang kita punya tentang dia". Mungkin sebenernya apa atau siapa yang kita coba pertahankan, gak sebegitu berartinya, hanya ‘aja kita terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Ketika perasaan atau ego kita membutakan logika, bisa jadi kita memaksakan diri untuk terus berjalan di atas jalan yang sebenarnya tidak lagi nyata. Dan… setelah semuanya normal dan kita sudah pulih dan bisa berpikir kembali, kita baru menyadari bahwa seseorang atau hubungan itu memang gak layak atau gak bisa dipertahankan lagi, and the best thing is too let it go, start a new chapter.
Dalam periode patah hati itu, kita punya pilihan, untuk tenggelam dalam kesedihan kita, atau mulai menganalisis akar permasalahannya dan alasan di balik keputusan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Mungkin dengan berpegang pada alasan kenapa kita putus, kita bisa menarik pembelajaran baru dan bisa jadi bekal untuk ke depannya. Kalaupun keputusan untuk berpisah ternyata menjadi sebuah kesalahan dan itu membawa penyesalan, kita masih bisa berusaha menarik hikmahnya dan nggak mengulangi kesalahan yang sama untuk ke depannya.
Well, untuk bangkit emang gak gampang. Saran yang paling sering keluar adalah… berdoa, supaya diangkat bebannya atau dikuatkan sehingga masih tetap tegak berdiri dan berjalan. Jangan biarkan diri kita jadi vakum dan cari penyaluran (yang positif dunks) misalnya menekuni hobby atau nyobain sesuatu yang baru juga bisa jadi alternatif. Try to get out from our system and give us time to deal with the pain. Cari yang "laen" juga bisa :D, cuman kadang bisa menimbulkan masalah baru atau salah ambil langkah karena kondisi mental dan otak kita sedang gak mengijinkan untuk mengambil keputusan.
Gimana cara ngelupainnya? Menurut gue sih, kita gak akan pernah bisa ngelupain seseorang atau sesuatu yang pernah menjadi hal yang spesial dalam hidup kita. He or she will always be there. Tapi seiring berjalannya waktu peran mereka akan berubah. The memories will still linger there, cryztalized, unchanged, but the importance of those memories would change somehow.
Am I talking crap again? Neways, cuman mau bilang buat semua yang lagi patah hati atau baru putus atau mengalami apapun yang gak menyenangkan, don’t lose hope, you will never know what is waiting for you, it might be something bigger or nicer that you have expected. God bless you, bro, sist!!! Take care…