Negeriku, Menangisku

Turut berduka cita atas peristiwa Bom Bali II di Jimbaran dan Kuta. Sometimes it is just scarry how different perspectives can create such tragedy. How come a human be a judge of other people’s life? He, Himself, creates all humans with so much loves and respects. Is it what we believe is more important than the human itself?

Prihatin juga dengan membumbungnya harga bensin dan minyak tanah. My brother was complaining because he got "his own" car. But neways, he still can use public transportation. How about people who already being pressed because all uncertainty in our economic situation; people who are still dwelling with their stomach, people who don’t know how they will be living tomorrow.

Sedih dan prihatin, dua kata yang bisa diucapkan pada tataran perasaan, bahkan belum pada level pemikiran. Dari sekian banyak orang yang menghujat Indonesia dan ingin secepatnya meninggalkan negara Indonesia, gue masih sangat ingin pulang dan "berbuat sesuatu". Tapi lagi-lagi ini semua hanya dalam bentuk harapan. Pada kenyataannya, gue masih tertidur dalam keapatisan dan kenyamanan gue di sini. Bentuk nyata apa yang bisa gue sumbang? Dalam bentuk doa sematakah? It is just so vague…

Sekali lagi, turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk semua tragedi yang terjadi di Indonesia. Semoga kita semua bisa bersama-sama melonggarkan ego dan paham masing-masing, menyatukan tangan bersama, dan setidaknya berusaha memperbaiki dan merawat apa yang masih tersisa.

Leave a Reply