In the Middle of Nowhere
Thursday, February 9th, 2006
In the middle of nowhere…
Have you ever felt that way?
When you (choose to) get stuck with a moment that you just don’t want to let go…
Or just want to scream to the sky… “Why?!!! Why me? Why him/her?”
Gue gak tau kenapa isi blog gue jadi begini semua. Hahahaha!!! Habis gimana dunks… atmosfer dari pertengahan November emang sendu mengharu biru!!! Heuheuheu… Mungkin buat orang normal situasi mellow yang berkepanjangan jadi menyebalkan, but.. what the hell.. =D belum puas ingin memuntahkan isi hati…
Yupe, it’s been months. And like people say “Misery loves company”, this phenomenon (heuheuheu what a term!) has been spread like a disease. Suddenly I see it around the corners, crawlling beneath shadows so unreal but so true, fenomena yang dinamakan (meminjam istilah sobat gue) “TERJEBAK” atau (diterjemahkan dalam istilah gue) “MENJEBAKKAN DIRI”. “It is like meeting a man of my dream and then I met his beautiful wife…” kata Alanis Morisette (Ironic). Yupe, exactly like that.
In the middle of nowehere… karena sebenernya kita tau bahwa apa yang kita punya saat ini, entah betapapun indahnya itu, suatu saat harus berakhir. Speak easy. Kenyataannya tidak semudah itu. Walaupun itu sesuatu yang salah, contohlah kayak kasus si Alanis di atas, dan kita juga ingin mengakhiri dan menghapus semua yand ada di hati dan otak kita-yang mengatasnamakan cinta, tapi… selalu ada sisi lain yang ingin mempertahankan hal tersebut.
Taruhlah orang yang kita sayangi sudah mengkhianati kita or has made our life miserable, tapi entah karena kita memang buta tuli atau pura-pura buta tuli atau keras kepala atau hanya bodoh belaka… kita masih tetap mencintai dia. Well, mencintai dia… atau bayang-bayang akan dia atau ASUMSI kita akan dia… anyway.. not going to discuss about that today…
Atau mungkin terjebak dalam situasi di mana dua-duanya sama-sama keras kepala, gak ada yang mau ngalah, dan memang gak sejalan dalam pengertian beda visi dan beda perspektif… Dua belah pihak sama-sama ingin pasangannya lebih mengerti pola pikirnya. Akhirnya kedua belah pihak sadar bahwa “bersama” bukanlah sebuah pilihan, hanya akan menghasilkan pertengkaran dan sederet kepahitan lainnya. Hanya ‘aja, kata Vina, “Cinta tak kenal logika”. Walaupun di level logika, semuanya sudah jelas, tidak ada tanda tanya harus memilih jalan yang mana, tapi di level hati… masih ingin bertahan walaupun terluka. Well, beda dikit sih sama kasus “fall in love with the right man in the wrong time”, tapi hari ini ingin disamaKEN sadja…
Dee di Supernova melalui Rana (seorang istri yang pada suatu saat menemukan “love of her life”nya pada seorang Ferre), melukiskan keinginan untuk melupakan kenyataan dan bertahan pada kondisi yang ada dengan,”Ingin menutup telinga dari raungan bumi.” Kalau perlu hidup di planet lain atau menjalani hidup paralel!!! Susahnya kalau orang yang mengalami kisah-kisa- serupa kisah sinetron tadi adalah tipe orang yang mudah terbawa perasaan dan punya tendensi tergantung pada orang lain. Efeknya jadi dua atau tiga kali lipat… padahal sekali lagi.. ini (katanya) cuman masalah perasaan!!!!
Seperti karet gelang yang diulur, meregang dan meregang sampai batas maksimum tapi gak putus-putus!!! Dan akhirnya dipasrahkan saja bagaimana sang kisah harus berakhir. Well, kalau di Supernova sih Rana kembali lagi pada suaminya… means there is an ending (or a new beginning?) for every story. Hanya kadang kita merasa “halaman buku” kita masih ditulisi, walaupun judulnya “tutup buku atau tulis bab baru” tetap saja masih ada segelintir harapan apa yang begitu nyata di dimensi lain, bisa jadi nyata di dimensi hidup kita yang sekarang.
Gak ada tips. Karena emang gue belum lulus “ujian” yang satu ini. Cuman hanya ingin menulis ini lagi, bahwa ada konsekuensi dari setiap yang kita lakukan. Memilih atau tidak memilih dan tetap tinggal “in the middle of nowhere” sama-sama punya konsekuensi, walaupun kadang kita gak mau atau BELUM mau untuk menjalani konsekuensinya…
And I just want to sing for myself, “Jika hidup harus berputar, biarlah berputar… Akan ada harapan sekali lagi seperti dulu…”