Archive for October, 2006

Sang Puteri & Sang Katak

Sunday, October 29th, 2006

Tadi pagi sewaktu mandi, tiba-tiba teringat satu lagu dari kaset Sanggar Cerita (kalo lu masih satu generasi dengan gue, pastinya inget jaman dulu ketika saluran TV hanya TVRI — setiap jam 6 sore dengan tekun duduk di depan TV, tangan dilipat, penuh kosentrasi menyimak kartun — dan komputer masih langka, Sega, Nintendo, apalagi PS2 masih imaginari belaka, kaset cerita anak-anak terutama dari Sanggar Cerita setia menemani kita… Sanggar Cerita… Makin Asyiikkk). Ceritanya sendiri berkisah tentang seorang putri dan seekor katak.

Lagu pembukaannya (gue nyanyikan waktu gue kelas 2 SD pas tes seni musik)

Hari cerah burung bernyanyi
Di taman bunga… o bunga berseri…
Ku main bola emas… senang di hati..
Hatiku sekarang tiada sunyi lagi…

Kulempar bola…hahahahaha…
Melambung tinggi… hihihihihihi..
Bola emas dari ayah indah sekali..
Siapa mau lihat… boleh kemari…

Alkisah di sebuah kerajaan, hiduplah seorang raja dengan putri cantiknya, Putri Mayang Sari. Di hari ulang tahunnya (lupa ke berapa tahun…) sang ayah memberikan bola emas sebagai hadiah ulang tahunnya. Sang Putri sangat gembira dan tiada henti memainkan bola emasnya itu. Hingga bola emasnya jatuh ke sumur mati. Sang Puteri sangat sedih karena dia tidak bisa mengambil bola emasnya dan takut dimarahi ayahnya.

Tersebutlah seekor katak kudis — yang bisa bicara — yang menawarkan bantuan untuk mengambilkan bola emasnya dengan syarat Sang Puteri mau mengabulkan apapun yang dimintanya. Sang Putri (yang gak kaget sama sekali Si Katak bisa bicara) meremehkan tawaran Si Katak dan menyetujuinya. Si Katak ternyata berhasil mengambil bola emas itu (curiga dia bersekongkol sama temen-temennya di dalam sumur — how the h**l a frog can lift up a golden ball I have never really thought about that — geez I am really really really slow…). Dia meminta Sang Putri untuk mengundangnya makan malam, bermain bersama, dan tidur di kamar Sang Putri (yang terakhir ini kayaknya emang ngelunjak banget ya… hehehe…).

Sang Ayah alias Sang Raja terkaget-kaget ketika pada malam hari ada seekor katak (dan dia juga gak terlalu mempertanyakan kok katak bisa ngomong) yang berkunjung untuk makan malam. Tapi begitu tahu ternyata Sang Putri sendiri telah memberikan janjinya, well… a promise is a promise… dan beliau juga menuntut supaya Sang Putri menepati janjinya… Jadilah Sang Katak bertandang ke istana kerajaan selama beberapa hari.

Tapi selepas Si Katak pergi, Sang Puteri selalu mendapatkan hadiah yang aneh-aneh… seperti (kalo gue gak salah) kereta mainan yang kalau disentuh oleh Sang Puteri bisa membesar jadi seukuran kereta normal (emang nyusahin yaaa…), dan hadiah-hadiah lainnya yang sebenernya cukup menarik. Si Katak selalu menyangkal kalau hadiah-hadiah itu darinya (padahal udah ketauan banget, dasar katak!!!). Sang Putri sampai sakit panas karena stress menerima hadiah-hadiah tersebut (saking jujurnya gak tahan ngerasa menerima barang yang bukan jatahnya kali yaaa…).

Akhir kisah, pada hari ke-7, alih-alih Si Katak, seorang Pangeran Tampan datang dan berterima kasih karena Sang Puteri telah membebaskan kutukan yang menimpa dirinya dan (if I am not wrong) meminang Sang Putri. Happy ending!!! (But what a guy who wants to marry a young kid who is still playing with a golden ball!!!).

Anyway, moralnya adalah… jika ada katak yang bisa ngomong dan mau jadi temen lu, terima aja… siapa tau bisa berubah jadi pangeran tampan… kalo nggak… ya… bisa dijual ke orang-orang yang berminat… Hehehe…

Ok, seriusnya… (setelah berpikir cukup keras untuk mengada-ada), commitment is a commitment, if you dare to make it one, then gotta stick to it, fruitful results might be waiting for you in the end, and hey… you might end up change someone’s life into a better one… even though it is only a frog… (keukeuuuhh!!!).

There is No Chain, Dear…

Saturday, October 7th, 2006

There is no chain, dear…
You could soar your white wings up to the sun…
Icarus would envy you as you will be glittering with triumph and light…
Invicible as the youth feeds you with its glory
And the time is just a wave that you shoothingly ride…

And here you are…
Earth bounded with black eyes…
Looking for the invisible in infinity…
Pretend that your reflection is noting but empty shadow..
Insist to be a ghost but crying out loud for an existence…

There is no chain, dear…
But you refuse to awake…
Burn yourself to death…
Turn from an angel to a living dead…

I am weeping for you and the seconds that you have been wasted too…
And I am waiting for you just at the other side of you…