Archive for August, 2007

Do You Have Any Idea…

Wednesday, August 22nd, 2007

Zipping hot chocolate in Coffee Bean today… smelling the sweet chocolaty… chatting with a good friend after a louzy day… then suddenly realize…

How much people have the idea about how other’s should do or should lead their live. Collecting memories of my own comments… he should go to Denmark; I think it is better for her to take the job in that MNC, she is strong and verywell capable and the money is good; naaaahh… she shoudn’t contact him anymore; uumm, why the hell he is marrying her while he still has "load" in his back… etc, etc…

… funny thing is I have no idea about my own life. It is like a giant mozaik with tiny winny pieces and scattered in the ground. Just thinking, one way to get idea about our life is to see our life from third-people-angle. And stop wallowing in our own pond for a moment. Yeah… then I realize, mostly after knowing what to do, I just be too reluctant to do it because… hmm… I can find and MAKE UP so many reasons.. but one factor is fear and solicitude.

Taking risk and be responsible for the decision…. hmm… mature and strong enough to do so? Or still being weak childish, not taking any actions and majorly cribbing about life day in day out… or taking rush decision and then blame others if something goes wrong?

Reflection of the day… hehehe…

Movie Marathon

Monday, August 20th, 2007

Last week, without realizing it, I had had a movie marathon in theatre!!

Start from Thrusday nite, 16th Aug ‘07:
Bourne Ultimatum; Havent seen the rest of Bourne’s movie. Had the synopsis about the previous movies from my friends. A very stylish movie, fast pace, very dynamic camera movement. In term of storyline it is pretty simple, Bourne finally regain his memory back and run away… again… Kinda view it as US Version of James Bond, without the ladies or unnecessary sensual scenes… Never really like Matt Damon, but he is well playing in CIA roles… :D

Friday nite, 17th Aug ‘07
Chak De India… Had a quick review on it on the other article "Catatan Tanggal 17 Agustus 2007"

Saturday evening, 18th Aug ‘07
Ghandi My Father. Never really know about Ghandi, except he is one of freedom movement leader who against violence and separation between Hindus and Moslems in India. This movie was describing about his relationship between Gandhi and his first son, Harilal. I might not been able to appreciate the movie as much as if I were an Indian, but I was touched by the movie. Not sure how much authentic is the story, the movie tried to convey how difficult it is to be a son of such an idealistic man, which maybe combine with such unfortunate situation, has lead Harilal to a rough path. Gandhi is showed as a very idealistic man even as a father. He loves his country so much and he holds his principles high. Always thinking about other people and serving the community. The movie also showed a bit of Gandhi journey. Mostly it described how Harilal was struggling in his life, to recover but then fell again into his past. Harilal died 5 months after Gandhi was shot in Mumbai Hospital, in poor and ill condition.

Sunday evening, 19th Aug ‘07…
Knocked Up… supposed to be a funny movie… well, it is funny, but for me quite a nightmare also :D. The story is about this young woman who just started her career as VJ in E! Entertainment. After her promotion, she went to this club, got drunk and slept with this jobles-no future-who lived with 5 other "useless" housemates" guy. Well, the movie has a happy ending… quite cliche actually… the guy started to learn to live with the girl and got to know her family, they had up and down relationship, and finally they had a cute baby girl and by then the guy had become a responsible guy. Important message: Don’t get drunk with a stranger and get sleep together without protection… :D :D :D

Next movie I have been waiting for since last May: Ratatouille (Rat-a-too-ee)! Oh yeah.. I think I’ll banned Quentin Tarantino from my list… hehehe… he is just too unique man! I am just an ordinary movie freak…

Catatan 17 Agustus 2007

Friday, August 17th, 2007

“Do you want to see this Shah Rukh Khan movie?” saya sempat kaget membaca sepenggal kalimat tersebut di jendela GTalk. Jarang sekali Priya mau nonton film Hindi, apalagi film-film yang dibintangi Shah Rukh Khan yang notabene dengan romantisme, dialog yang mendayu-dayu dan air mata. Sedangkan saya sendiri masih setengah hati untuk nonton film Hindi. Maklum, sudah tertanam rasa gengsi untuk nonton film India, biarpun sempat pacaran dengan orang India. Hehehe… Tapi sore ini begitu membosankan di kantor dan menurut Priya film yang ini jauh berbeda dengan film-film Shah Rukh Khan yang biasa. Gak ada acara nari-nari atau nyanyi-nyanyi dan gak ada adegan percintaan. So, ok, why not, sekali-kali boleh juga…

Chak De India. Film ini bertutur tentang seorang pemain hoki nasional yang kalah di final melawan Pakistan pada babak penalti. (Cat: India dan Pakistan selalu bersaing sengit di setiap kompetisi, kekalahan akan membawa efek yang sangat besar bagi masyarakat mereka). Somehow, jabat tangan di akhir pertandingan antara si kapten dengan pemain Pakistan disalahartikan oleh media dan masyarakat. Si kapten dituduh telah menjual India pada Paskistan. Dampaknya sangat drastis, masyarakat membenci, mengucilkan si kapten dan dia menghilang selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, si kapten kembali ke dunia hoki untuk mejadi pelatih tim nasional putri yang selalu dicap tidak mampu membawa nama India. Berangkat dari keraguan orang-orang dan masalah-masalah internal, si kapten berjuang untuk membentuk tim hoki dan membawa tim India ke Piala Dunia Hoki. Walaupun sudah bisa ditebak pada akhirnya mereka akan memenangkan Piala Dunia dengan penuh perjuangan, tapi kemenangan mereka digambarkan dengan cukup realistis. Secara keseluruhan, meskipun tidak ada yang istimewa, film ini cukup menarik, tidak membosankan dan pesannya tersampaikan dengan baik.

Tapi saya bukan ingin membicarakan tentang film ini. Yang menarik adalah semangat nasionalisme dari orang-orang India. Sepanjang film, saya bertanya-tanya apakah kita sebagai orang Indonesia punya semangat seperti itu. Yupe, memang benar Chak De India memang sekedar film, tapi setidaknya film mereka menunjukkan kalau mereka bangga menjadi orang India dan mereka ingin berjuang untuk mengharumkan nama India. Semangat yang sama saya temukan di kartun-kartun dan komik-komik Jepang semacam Kapten Tsubasa, Shoot!, dan lain-lain. Mungkin bagi sebagian orang, kartun, komik, dan film tidak berarti atau sepele, tapi yang saya lihat adalah mereka berusaha menterjemahkan semangat kebangsaan mereka melalui media-media tersebut.

Saya tidak tahu berapa persen orang Indonesia yang masih merasa bangga sebagai orang Indonesia. Saya mendengar beberapa teman-teman Indonesia di sini sudah tidak peduli lagi terhadap kondisi atau berita apa-pun dari Indonesia. Sempat dengar komentar juga, kalau saya tidak perlu pulang ke Indonesialagi karena kondisi di sana semakin memburuk dan membuat frustasi tiap harinya. Harga-harga melonjak naik, korupsi-jangan ditanya-semakin merajalela walaupun pemerintah terlihat cukup aktif memberantas korupsi, untuk masuk sekolah negeri tak ada cara lain selain ikutan sogok-menyogok, jalanan semakin padat, polusi, sampah di mana-mana, pengangguran meningkat, bencana alam, bencana pesawat jatuh-ferri, penerbangan Indonesia diblokir, dan sebagainya,… dan sebagainya…

Tapi… kalau bukan kita yang peduli dengan negara kita… lalu siapa lagi? Apakah kita dengan sukarela akan menyewakan negara kita untuk dikelola oleh negara lain dan kita hanya akan numpang tinggal di Indonesia? Kalau bukan kita yang muda-muda ini masih sok beridealisme, lalu siapa lagi yang mau meneruskan membangun negara kita? Atau kita hanya duduk diam, tidak peduli, biar hancur sekalian hancur?
Ketika saya pulang bulan Mei yang lalu, beberapa kali saya mendengar, “Ya gitu deh mentalnya orang Indonesia. Ya… gitu deh pemerintah kita.” SO WHAT?!!! Apa kita juga sudah berbuat sesuatu yang membuat kita bebas dari “mental Indonesia” kita? Kalau setiap orang bisa berkata hal yang sama, tapi gak mau berubah, ya… memang gak akan bisa berubah.

Saya tidak pernah turun ke jalan waktu saya masih mahasiswa. Jarang sekali ikut menganalisis mengapa pemerintah atau politik kita begitu bobrok dan bagaimana kita harus mencoba membenahinya. Saya juga tidak terjun membina LSM-LSM. Tapi saya pikir, semua orang bisa berkontribusi untuk berbuat sesuatu. Biarpun kecil dan mungkin seperti tidak berarti, tapi saya yakin akan ada hikmahnya dari itikad baik dan usaha yang nyata. Contoh? Tidak membuang sampah sembarangan. Mungkin kita bisa tertawa. Apa hubungannya? Saya akan memberikan jawaban guru SD saya, kalau satu orang membuang sampah ke jalan dan berpikir,”Ah gak apa-apa kan cuman seorang ini”, kalau ada semilyar orang berpikiran sama, bakalan ada semilyar sampah lebih setiap kalinya. Lalu siapa yang bertanggung jawab akan kualitas lingkungan hidup kita? Kalau kita terbiasa dengan membuang sampah seenaknya, jangan heran kalau ada pihak-pihak yang tidak peduli membuang sampah industri yang beracun begitu saja. Kalau kamu seorang mahasiswa, tapi gak pernah kuliah, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun buat lulus, apa itu sebuah bentuk kontribusi? Jatah kamu bisa dipakai oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang bertekad untuk lulus, cari kerja, dan membantu orang-tuanya mungkin. Ok… mungkin bagi beberapa orang, hal-hal tersebut gak ada artinya untuk membuat negara menjadi lebih baik. So if you think you can do more, then do it. Else, I don’t see anything wrong to keep implementing these small things and still trying to move forward.

Saya juga berharap kalau Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya sekedar semboyan bangsa yang diulang-ulang di setiap buku PMP, PPKN, atau apa pun namanya sekarang. Bangsa Indonesia rapuh sekali dengan perpecahan. Etnis, ras, agama, kedaerahan. Malaysia malah dengan bangganya mempromosikan “Malaysia Trully Asia” karena keanekaragaman mereka. Dan harus diakui Malaysia bergegas maju dan meninggalkan Indonesia di garis belakang. Bangsa kita malah mudah terkoyak jika titik-titik sensitif ini disentuh. Kita harusnya bisa melihat melebihi batas-batas kotak-kotak ini, keluar dari keterkotakan. Bukannya saling curiga dan menjatuhkan. Kalau dari dalam saja begitu, bagaimana kita mau menghadapi dunia luar?

Ini adalah catatan pada tanggal 17 Agustus 2007. Call me a dreamer or a stupid idealist or No-Action-Talk-Only person or a major hypocrite who only talk and keep living in foreign country and even using English to write this sentence. But I do still care about Indonesia and at least I don’t want to lose this passion. I really hope that Indonesian will not lose their hope and give up, well… at least not the youngsters. Sekali lagi, kalau bukan kita, siapa lagi? Semoga Tuhan memberkati negara kita. Merdeka!