“Do you want to see this Shah Rukh Khan movie?” saya sempat kaget membaca sepenggal kalimat tersebut di jendela GTalk. Jarang sekali Priya mau nonton film Hindi, apalagi film-film yang dibintangi Shah Rukh Khan yang notabene dengan romantisme, dialog yang mendayu-dayu dan air mata. Sedangkan saya sendiri masih setengah hati untuk nonton film Hindi. Maklum, sudah tertanam rasa gengsi untuk nonton film India, biarpun sempat pacaran dengan orang India. Hehehe… Tapi sore ini begitu membosankan di kantor dan menurut Priya film yang ini jauh berbeda dengan film-film Shah Rukh Khan yang biasa. Gak ada acara nari-nari atau nyanyi-nyanyi dan gak ada adegan percintaan. So, ok, why not, sekali-kali boleh juga…
Chak De India. Film ini bertutur tentang seorang pemain hoki nasional yang kalah di final melawan Pakistan pada babak penalti. (Cat: India dan Pakistan selalu bersaing sengit di setiap kompetisi, kekalahan akan membawa efek yang sangat besar bagi masyarakat mereka). Somehow, jabat tangan di akhir pertandingan antara si kapten dengan pemain Pakistan disalahartikan oleh media dan masyarakat. Si kapten dituduh telah menjual India pada Paskistan. Dampaknya sangat drastis, masyarakat membenci, mengucilkan si kapten dan dia menghilang selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, si kapten kembali ke dunia hoki untuk mejadi pelatih tim nasional putri yang selalu dicap tidak mampu membawa nama India. Berangkat dari keraguan orang-orang dan masalah-masalah internal, si kapten berjuang untuk membentuk tim hoki dan membawa tim India ke Piala Dunia Hoki. Walaupun sudah bisa ditebak pada akhirnya mereka akan memenangkan Piala Dunia dengan penuh perjuangan, tapi kemenangan mereka digambarkan dengan cukup realistis. Secara keseluruhan, meskipun tidak ada yang istimewa, film ini cukup menarik, tidak membosankan dan pesannya tersampaikan dengan baik.
Tapi saya bukan ingin membicarakan tentang film ini. Yang menarik adalah semangat nasionalisme dari orang-orang India. Sepanjang film, saya bertanya-tanya apakah kita sebagai orang Indonesia punya semangat seperti itu. Yupe, memang benar Chak De India memang sekedar film, tapi setidaknya film mereka menunjukkan kalau mereka bangga menjadi orang India dan mereka ingin berjuang untuk mengharumkan nama India. Semangat yang sama saya temukan di kartun-kartun dan komik-komik Jepang semacam Kapten Tsubasa, Shoot!, dan lain-lain. Mungkin bagi sebagian orang, kartun, komik, dan film tidak berarti atau sepele, tapi yang saya lihat adalah mereka berusaha menterjemahkan semangat kebangsaan mereka melalui media-media tersebut.
Saya tidak tahu berapa persen orang Indonesia yang masih merasa bangga sebagai orang Indonesia. Saya mendengar beberapa teman-teman Indonesia di sini sudah tidak peduli lagi terhadap kondisi atau berita apa-pun dari Indonesia. Sempat dengar komentar juga, kalau saya tidak perlu pulang ke Indonesialagi karena kondisi di sana semakin memburuk dan membuat frustasi tiap harinya. Harga-harga melonjak naik, korupsi-jangan ditanya-semakin merajalela walaupun pemerintah terlihat cukup aktif memberantas korupsi, untuk masuk sekolah negeri tak ada cara lain selain ikutan sogok-menyogok, jalanan semakin padat, polusi, sampah di mana-mana, pengangguran meningkat, bencana alam, bencana pesawat jatuh-ferri, penerbangan Indonesia diblokir, dan sebagainya,… dan sebagainya…
Tapi… kalau bukan kita yang peduli dengan negara kita… lalu siapa lagi? Apakah kita dengan sukarela akan menyewakan negara kita untuk dikelola oleh negara lain dan kita hanya akan numpang tinggal di Indonesia? Kalau bukan kita yang muda-muda ini masih sok beridealisme, lalu siapa lagi yang mau meneruskan membangun negara kita? Atau kita hanya duduk diam, tidak peduli, biar hancur sekalian hancur?
Ketika saya pulang bulan Mei yang lalu, beberapa kali saya mendengar, “Ya gitu deh mentalnya orang Indonesia. Ya… gitu deh pemerintah kita.” SO WHAT?!!! Apa kita juga sudah berbuat sesuatu yang membuat kita bebas dari “mental Indonesia” kita? Kalau setiap orang bisa berkata hal yang sama, tapi gak mau berubah, ya… memang gak akan bisa berubah.
Saya tidak pernah turun ke jalan waktu saya masih mahasiswa. Jarang sekali ikut menganalisis mengapa pemerintah atau politik kita begitu bobrok dan bagaimana kita harus mencoba membenahinya. Saya juga tidak terjun membina LSM-LSM. Tapi saya pikir, semua orang bisa berkontribusi untuk berbuat sesuatu. Biarpun kecil dan mungkin seperti tidak berarti, tapi saya yakin akan ada hikmahnya dari itikad baik dan usaha yang nyata. Contoh? Tidak membuang sampah sembarangan. Mungkin kita bisa tertawa. Apa hubungannya? Saya akan memberikan jawaban guru SD saya, kalau satu orang membuang sampah ke jalan dan berpikir,”Ah gak apa-apa kan cuman seorang ini”, kalau ada semilyar orang berpikiran sama, bakalan ada semilyar sampah lebih setiap kalinya. Lalu siapa yang bertanggung jawab akan kualitas lingkungan hidup kita? Kalau kita terbiasa dengan membuang sampah seenaknya, jangan heran kalau ada pihak-pihak yang tidak peduli membuang sampah industri yang beracun begitu saja. Kalau kamu seorang mahasiswa, tapi gak pernah kuliah, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun buat lulus, apa itu sebuah bentuk kontribusi? Jatah kamu bisa dipakai oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang bertekad untuk lulus, cari kerja, dan membantu orang-tuanya mungkin. Ok… mungkin bagi beberapa orang, hal-hal tersebut gak ada artinya untuk membuat negara menjadi lebih baik. So if you think you can do more, then do it. Else, I don’t see anything wrong to keep implementing these small things and still trying to move forward.
Saya juga berharap kalau Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya sekedar semboyan bangsa yang diulang-ulang di setiap buku PMP, PPKN, atau apa pun namanya sekarang. Bangsa Indonesia rapuh sekali dengan perpecahan. Etnis, ras, agama, kedaerahan. Malaysia malah dengan bangganya mempromosikan “Malaysia Trully Asia” karena keanekaragaman mereka. Dan harus diakui Malaysia bergegas maju dan meninggalkan Indonesia di garis belakang. Bangsa kita malah mudah terkoyak jika titik-titik sensitif ini disentuh. Kita harusnya bisa melihat melebihi batas-batas kotak-kotak ini, keluar dari keterkotakan. Bukannya saling curiga dan menjatuhkan. Kalau dari dalam saja begitu, bagaimana kita mau menghadapi dunia luar?
Ini adalah catatan pada tanggal 17 Agustus 2007. Call me a dreamer or a stupid idealist or No-Action-Talk-Only person or a major hypocrite who only talk and keep living in foreign country and even using English to write this sentence. But I do still care about Indonesia and at least I don’t want to lose this passion. I really hope that Indonesian will not lose their hope and give up, well… at least not the youngsters. Sekali lagi, kalau bukan kita, siapa lagi? Semoga Tuhan memberkati negara kita. Merdeka!