S P A S I
Dee, di bukunya Filosofi Kopi, menulis:
SPASI (1998):
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankan kita bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
………
Dee menulis prosa di atas dalam konteks kekasih. Hari ini, terpikir, bukan hanya dengan kekasih, tapi dalam segala hal dalam hidup kita, kita membutuhkan spasi. Ruang kosong untuk sejenak mengambil nafas, melihat dari prespektif yang berbeda. Tanpa spasi, segalanya hanya akan mejadi serentetan kata tanpa makna. Masihbisadibacatentusaja. Tapidalamjangkawaktutertentumatajadilelahkalimatkehilanganarti.
S p a s i… J e d a…
Biarkan diri mengamati, mengevaluasi tanpa harus sinis dan sarkastik.
Untuk mengerti tanpa menuntut.
S p a s i… J e d a…
Aku ingin membaca dan mengerti sebelum hancur lagi.
September 19th, 2007 at 5:31 am
yupes.. untuk beberapa orang yang memiliki intensitas ketmuan yan tinggi, dalam keadaan tertentu bisa menimbulkan banyak gesekan. jadi musti sejenak ambol jarak supaya punya ruang dan waktu buat diri sendiri. buat berpikir apa langkah selanjutnya.
jangan ambil jarak terlalu lama, terlalu jauh, karena gimanapun kita mungkin sebenernya ga mau kehilangan kedekatan yang kadang membuat kita lelah jatuh bangun itu.. =)