Mengering sudah bunga di pelukan…
Merpati putih berarak pulang, terbang menerjang badai…
Tinggi di awan, menghilang di langit yang hitam
Selamat berpisah, kenangan bercinta…
Sampai kapankah jadinya aku harus menunggu?
Hari bahagia seperti dulu…
Sepenggal lirik dari Merpati Putih, ost Badai Pasti Berlalu film tahun 1981 yang di-remake baru-baru ini. Gak perlu diuraikan, di mana sentuhan puitis ditorehkan pada lirik lagu di atas
Gue adalah salah satu fan dari lirik lagu. Bagi gue lirik menentukan keutuhan sebuah lagu. Kalau kamu sempat nonton film "Music & Lyric", kurang lebih pendapat gue sama seperti pendapat Drew Barrymore di film itu. Musik itu ibarat penampilan fisik yang umumnya memikat orang pada pandangan pertama dari lagu. Lirik adalah jiwa dari lagu, it is the soul of a song or a music. Lirik yang buruk bisa membuat lagu yang enak banget di telinga jadi gak berkenan di hati. Liriklah yang jadi senjata ampuh sehingga musik atau sebuah lagu bisa jadi kendaraan waktu yang mampu melesat ke masa lalu, mengajakmu ke masa depan, dan menarikmu lagi ke masa kini. Liriklah yang bisa merangkum semua memori dan perasaan, membingkisnya dengan cantik, dan menyimpannya dengan apik di bawah pohon waktu.
Belakangan ini, kalo gue perhatikan lagu-lagu Indonesia, terutama lagu-lagu pop, cenderung memiliki lirik yang catchy dan lugas. Gue gak mengatakan kalau lirik-lirik itu jelek atau murahan. Buktinya lirik "Lelaki…. Buaya Darat, busyet aku tertipu lagi…" milik Ratu, bener-bener memberikan soul yang lincah dan muda pada lagu "Lelaki Buaya Darat".
Hanya ‘aja, gue kangen dengan lagu-lagu puitis yang sedikit bermain dengan kata-kata; "Tuliskan semua kesedihan semua tak bisa kau ungkapkan. Dan kita kan bicara dengan hatiku. Buang semua puisi antara kita berdua, kau bunuh dia sesuatu yang kusebut itu cinta…" Hapus Aku - Nidji. Gak sulit untuk mengerti maksud dari lirik lagunya, tapi Nidji berhasil meninggalkan kesan yang lebih dalam lewat pilihan kata-katanya.
Musik, lagu, atau nyanyian, bisa jadi media untuk menuangkan citra rasa sastra yang gak harus dikungkum dalam bentuk novel atau prosa.
Gue berharap pengarang atau pencipta lagu jaman sekarang juga tertarik untuk memperhatikan kualitas liriknya, bukan sekedar mengejar popularitas pasar. Boleh donk sekedar memberi input?
Hmm, jadi inget lagu dari Rida, Sita, Dewi: "Angkasa tanpa pesan, merengkuh semakin dalam. Berselimut debu waktu, ku menanti resah… Kau datang dengan sederhana. Satu bintang di langit kelam, sinarmu rimba pesona, dan kutahu… tlah tersesat…"
Maybe, I should try to create one someday? Hehehe…